Perseteruan BPJS Kesehatan dan Pasien Kanker Payudara Semakin Memanas

Dia dan kuasa hukumnya juga memikirkan pasien lain yang sama sepertinya. Dia rela berjibaku menjadi martir bagi pasien lainnya.

Perseteruan BPJS Kesehatan dan Pasien Kanker Payudara Semakin Memanas
Warta Kota/Hamdi Putra
Kantor Pusat BPJS Kesehatan di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (20/7/2018). 

Kepala Bagian Humas BPJS Kesehatan, Nopi Hidayat mengatakan, dokter penanggungjawab Juniarti akan memberikan terapi dan obat alternatif pengganti Trastuzumab, yang sudah tidak dijamin lagi oleh BPJS Kesehatan sejak 1 April 2018.

Juniarti merupakan seorang pasien penderita Kanker Payudara HER2 Positif yang diresepkan oleh dokter untuk mengonsumsi Trastuzumab.

Dalam kasus ini, dokter penanggungjawab Juniarti telah diajak berdiskusi dengan Dewan Pertimbangan Klinis dan Dewan Pertimbangan Medis.

Dokter inilah yang nantinya akan meresepkan terapi atau obat apa yang cocok untuk Juniarti sebagai pengganti Trastuzumab.

"Jadi, jangan salah arti. Trastuzumab tidak dijamin lagi oleh BPJS Kesehatan bukan berarti kami melepas jaminan secara keseluruhan terhadap pasien. Kami tetap akan menjamin terapi atau obat pengganti Trastuzumab itu," kata Nopi Hidayat kepada Warta Kota, Jumat (20/7/2018).

Sementara itu, Edy Haryadi, suami Juniarti saat dihubungi pada Sabtu (21/7/2018) mengaku, belum mendengar rekomendasi apapun dari dokter yang menangani istrinya terkait terapi atau obat pengganti Trastuzumab seperti yang dikatakan Kepala Bagian Humas BPJS Kesehatan, Nopi Hidayat.

"Intinya, untuk pertanyaan Anda, apakah dokter sudah mengomunikasikan ke saya alternatif pengobatan selain Trastuzumab seperti yang ditawarkan BPJS Kesehatan, saya pastikan tidak ada. Karena, memang bagi penderita Kanker Payudara HER2 Positif, pilihannya terbatas dan hanya Trastuzumab yang sudah teruji secara medis, ilmiah, dan empiris memperpanjang usia hidup penderita Kanker Payudara HER2 Positif," kata Edy Haryadi.

Hingga kini, BPJS Kesehatan masih akan tetap berpegang teguh pada rekomendasi Dewan Pertimbangan Klinis dan Dewan Pertimbangan Medis yang berada di bawah Kementerian Kesehatan RI.

Kedua dewan pertimbangan tersebut merekomendasikan Trastuzumab tidak lagi efektif untuk pasien penderita Kanker Payudara HER2 Positif.

Hal inilah yang menjadi dasar ditariknya Trastuzumab dari daftar obat yang dijamin oleh BPJS Kesehatan per 1 April 2018.

Halaman
1234
Penulis: Hamdi Putra
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved