Sekolah Ini Paksakan Siswinya Membeli Jilbab, Orangtua Laporkan ke Menteri Agama

Seorang warga bernama Cantigi lewat akun @cantigi55 mengaku sangat keberatan atas kebijakan sekolah MTsN 2 Ngosit, Sleman, Yogyakarta.

Sekolah Ini Paksakan Siswinya Membeli Jilbab, Orangtua Laporkan ke Menteri Agama
Kompas.com/Ihsanuddin
MENTERI Agama Lukman Hakim Saifuddin di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (15/5/2018). 

SEORANG warga bernama Cantigi lewat akun @cantigi55 mengaku sangat keberatan atas kebijakan sekolah MTsN 2 Ngosit, Sleman, Yogyakarta.

Sekolah anaknya itu mewajibkan siswa kelas VII dan kelas VIII untuk membeli jilbab, sementara kebijakan tersebut sangat memberatkan orangtua.

Kejadian tersebut pun dilaporkan kepada Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin lewat akun twitternya @lukmansaifuddin pada Kamis (19/7/2018).

Beruntung bagi Cantigi, laporannya bakal ditindaklanjuti sang menteri.

"Assalammu'alaikum wr. wb pak @lukmansaifuddin, semoga kesehatan dan kebahagian selalu tercurah untuk bapak dan keluarga. Dengan ini saya ingin menyampaikan keluhan/keberatan sy selaku org tua yg anaknya (kelas 8) sekolah di MTsN 2 Ngosit, Sleman, Yogyakarta. @Kemenag_RI," tulis Cantigi.

Baca: Soal Fahri Hamzah yang Suka Mengkritik, Begini Kata Gibran dan Kaesang

Baca: Mitra Pengemudi Grab Akan Melakukan Demonstrasi saat Asian Games 2018

Baca: Pemkot Bekasi: Tidak Bisa Melarang Permohonan Izin Reklame Rokok

"Terkait kebijakan dari pihak sekolah yg meWAJIBkan pembelian jilbab baru untuk kls 7 dan 8. Kalau kelas 7 saya mengerti, krn blm punya. Tapi kalau klss 8, kan sdh punya pak jilbab resmi dari sekolah waktu pertama kali masuk. Terlebih alasannya krn kls 8 tdk rapi kalo pake jilbab," tambahnya.

Adapun harga dari jilbab tersebut ditawarkan oleh pihak sekolah seharga Rp 35.000 per potong, sedangkan siswa diwajibkan untuk membeli empat potong jilbab dalam waktu bersamaan.

Walaupun diberikan kemudahan dalam pembelian, yakni pembayaran jilbab dapat dicicil, namun kebijakan tersebut dinilainya tetap memberatkan.

"Kalau kelas 8 wajib beli (angsur) tapi kelas 9 tidak. Sy cuma org tua yg bekerja sebagai driver ojol, dan ini sangat memberatkan kami. Sy pikir toh jilbab yg lama masih bagus, dan sangat layak dipakai. Knp harus beli baru lagi??," ungkapnya heran.

"Mohon maaf, jika tweet sy ini menambah kerjaan pak @lukmansaifuddin yg saat ini sedang sibuk menangani calon haji di Indonesia. Dan jg sebagai caleg. Tapi sy berharap bpk bisa memberikan solusi utk masalah ini," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved