Sekda DKI: Pergantian Pejabat Ibarat Kehidupan Memasuki Kematian

Menurutnya, hal tersebut mutlak dilakukan oleh gubernur dalam membentuk tim yang lebih kuat untuk membahagiakan masyarakatnya.

Sekda DKI: Pergantian Pejabat Ibarat Kehidupan Memasuki Kematian
KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERA
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah. 

SEKRETARIS Daerah Provinsi DKI Jakarta Saefullah menganggap pergantian pejabat adalah hal yang sangat biasa dalam pemerintahan.

"Kemarin persoalannya rotasi, belum ada lelang jabatan, dalam kepegawaian hal yang biasa. Rotasi, mutasi, promosi, seleksi, itu hal yang biasa. Enggak ada yang aneh. Ini hal yang sangat biasa," ujar Saefullah di Balai Kota, Rabu (18/7/2018).

Menurutnya, hal tersebut mutlak dilakukan oleh gubernur dalam membentuk tim yang lebih kuat untuk membahagiakan masyarakatnya.

Baca: Mantan Wali Kota Jakarta Timur Dicopot Lewat WhatsApp, Sandiaga Uno: Zaman Now, Jangan Didramatisir

"Jadi ibaratnya dalam permainan bola, gubernur kan ingin tim yang kuat yang pada akhirnya bisa memberikan kebahagiaan kepada masyarakatnya. Dia ingin tim yang kuat. Dia mau ganti penyerang, sayap, second striker, bek, atau pun kiper, itu hak gubernur. Mutlak!" paparnya.

Ia heran dengan pejabat yang kaget saat mengetahui dirinya diberhentikan. Padahal, ada beberapa hal yang memang seharusnya tidak dibeberkan kepada masyarakat luas.

"Jadi menurut saya biasa-biasa saja. Cuma persoalannya ada orang yang kaget. Jadi di satu sisi dalam proses itu kita harus menjaga kerahasiaan. Ini kan kita jaga, begitu dikasih tahu kaget. Kalau dikasih tahu dari awal nanti dibilang bocor, diganti sekarang juga kaget," bebernya.

Baca: Mantan Wali Kota Jakarta Timur: Sekarang Saya Kayak Tahanan Kota

Saefullah mengibaratkan pergantian pejabat seperti kematian. Menurutnya, tidak ada sesuatu yang kekal di dunia, sehingga semua harus bersiap dan menerima apa pun keputusan yang telah ditetapkan.

"Jadi ibaratnya nih pergantian pejabat ini ibarat kehidupan memasuki kematian. Tidak ada manusia di dunia seperti raja, presiden, perdana menteri, gubernur, rakyat jelata, kiai, pastur, biksu, itu tidak ada yang tahu kapan mereka mati," kata Saefullah.

"Jabatan juga begitu, kita enggak tahu kapan datangnya. Kalau memang harus habis hari ini, ya sudah ikhlas saja. Sama dengan kematian," sambung Saefullah. (*)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved