Demonstrasi Barisan Emak Militan Gugat Mahalnya Harga Telur Ayam

Mereka menuntut Presiden Jokowi menurunkan harga sembako khususnya harga telur yang membumbung tinggi.

Demonstrasi Barisan Emak Militan Gugat Mahalnya Harga Telur Ayam
Warta Kota/Adhy Kelana
Pedagang telur di pasar Lapangan Tembak Cibubur Jakarta Timur saat melayani pembeli, Selasa (17/7). 

SEJUMLAH kalangan menunjukkan kekecewaan terkait lonjakan harga kebutuhan pokok.

Mereka pun melakukan unjuk rasa memrotes kenaikan harga yang terjadi.

Sebagaimana diungkap Kompas TV, sejumlah kalangan emak melakukan unjuk rasa di Istana Negara.

Para emak ini geram karena harga sembako terus naik.

Mereka tergabung dalam barisan emak-emak militan (BEM).

Mereka menuntut Presiden Jokowi menurunkan harga sembako.

Kata emak-emak pemerintah tidak mampu mengendalikan harga pangan.

Aksi massa BEM mendapat pengawalan aparat kepolisian.

Kalangan emak dari BEM kecewa karena banyak pejabat asal bunyi (asbun) dalam menyikapi meroketnya harga telur. 

Demo emak-emak bubar setelah perwakilan mereka akhirnya diterima sekretaris negara.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo menyatakan, pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah di Indonesia hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Hal itu disampaikan Hashim saat memberikan kuliah umum dan diskusi kebangsaan di aula Nibaki, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Nusantara Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (11/6/2018) sore.

Menurut Hashim, pembangunan jalan tol, misalnya, tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, karena tarifnya terlampau mahal.

"Presiden kita sering melakukan peresmian jalan tol, tapi banyak jalan tol setelah diresmikan malah kosong. Di Pulau Jawa, banyak yang kosong," ucap Hashim.

"Rakyat tidak mampu membayar tarif tol yang begitu mahal. Coba ditanya kawan-kawan atau keluarga di Pulau Jawa. Sopir truk dan rakyat biasa, tidak mampu membayar jalan tol karena mahal," sambungnya.

Di Medan, Sumatera Utara, lanjut Hashim, ada jalan tol yang baru tiga bulan diresmikan, tapi saat ini kosong, karena untuk jalan sejauh 30 kilometer, warga harus bayar jalan Rp 41.000, sehingga kalau pulang pergi itu harus bayar Rp 82.000.

Tarif itu, kata Hashim, tentu sangat mahal.

Jika digunakan secara rutin setiap hari, maka sebulan, masyarakat harus mengeluarkan uang sebesar Rp 2,4 juta.

Hashim mengaku, beberapa waktu lalu pernah bertemu dan mendengar langsung keluhan dari seorang pedagang asal Medan, yang mengeluh soal mahalnya tarif jalan tol.

"Pertanyaannya jalan tol dan jembatan layang ini dibangun untuk siapa? Presiden lupa, kalau pembangunan infrastruktur ini harus untuk rakyat banyak, bukan untuk segelintir manusia saja," imbuhnya.

Hashim pun mengakui, pembangunan ekonomi Indonesia tumbuh cepat, tapi bukan untuk semua warga.

Pemerintah saat ini, kata Hashim, hanya fokus pada infrastruktur saja.

"Infrastruktur itu penting, tapi yang lain juga penting, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi," katanya.

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved