Angkat Kisah Teror Bom Thamrin, Ini Kesulitan yang Dialami Sutradara Film 22 Menit

Ketika melakukan produksi, pihaknya sangat berhati-hati, karena jalan ceritanya yang diangkat ke film layar lebar, sangat sensitif.

Angkat Kisah Teror Bom Thamrin, Ini Kesulitan yang Dialami Sutradara Film 22 Menit
WARTA KOTA/ARIE PUJI WALUYO
Jumpa pers film 22 Menit di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018). 

FILM 22 Menit karya rumah produksi Button Ijo yang disutradarai Eugene Panji dan Myrna Paramita, sempat membuat heboh DKI Jakarta.

Sebab, proses shooting film itu sampai menutup Jalan MH Thamrin selama satu bulan di setiap akhir pekan.

Hal tersebut dikarenakan Panji dan Myrna mengambil gambar di ruas Jalan MH Thamrin, kedai kopi, serta pos polisi Thamrin, yang diserang teroris pada 14 Januari 2016 silam.

Baca: Warung Mi Ayam Milik Terduga Teroris di Depok Selalu Ramai Pembeli

Produksi film 22 Menit yang dibintangi Ario Bayu, Ade Firman Hakim, Ardina Rasti, dan lain-lain, sudah rampung, dan siap masuk industri perfilman Indonesia.

Dalam jumpa pers yang diselenggarakan di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018), Panji menjelaskan bahwa pihaknya mencoba memberikan sebuah edukasi untuk penanganan teroris.

"Saya tidak memasukkan unsur agama ataupun politik di sini. Tapi kami mencoba memasukkan edukasi, bagaimana penanganan untuk melawan aksi kekacauan. Ini pure film bergenre action kolosal," tutur Panji.

Baca: Pemprov DKI Siapkan 1.500 Bus Transjakarta Tujuan Venue Asian Games 2018

Panji menambahkan, ketika melakukan produksi, pihaknya sangat berhati-hati, karena jalan ceritanya yang diangkat ke film layar lebar, sangat sensitif.

"Bikin film ini berhati-hati ya, karena agak sensitif, karena bicara teroris pasti ada hal yang tidak suka. Akhirnya kita bikin dari sisi humanisme. Makanya kita bikin lima sudut pandang 14 Januari 2016, dari situ terjadilah film ini," paparnya.

Mengangkat sebuah kisah nyata dalam film, Panji merasa kesulitan. Ia harus merekonstruksi kejadian nyata, untuk mendapatkan detail peristiwa.

Baca: Luhut Panjaitan: Dulu Saya Sama Pak Anies Timses Jokowi, Itulah Mystery of Life

Ia mengaku mencoba meminta izin kepada pemilik kedai kopi yang terkena bom, untuk pembuatan film. Namun, karena tidak mendapatkan izin, ia pun memindahkan lokasi shooting.

"Kesulitannya adalah memindahkan lokasi shooting coffeeshop, ke sebuah lapangan dengan skala 1:1. Itu harganya besar sekali, mencapai bisa membuka usaha lah, dan saya hanya dikasih dua kali kesempatan menghancurkan lokasi itu," ungkapnya.

Panji merasa beruntung pihak Kepolisian Republik Indonesia mau bekerja sama dengannya dalam produksi film 22 Menit.

"Kami bersyukur pihak kepolisian mau bekerja sama untuk film ini. Ya, kami akan memberikan karya terbaik selaku seniman," ucap Eugene Panji. (*)

Penulis: Arie Puji Waluyo
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved