Jukir Liar Kota Tua Pusing Sejak Ada 13 Mesin Parkir dan Spanduk Larangan Parkir Sembarangan

Banyaknya spanduk larangan parkir kendaraan terpajang di Kawasan Kota Tua, membuat para jukir liar gigit jari.

Jukir Liar Kota Tua Pusing Sejak Ada 13 Mesin Parkir dan Spanduk Larangan Parkir Sembarangan
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Spanduk-spanduk larangan parkir sembarangan makin banyak dipajang. 

Semenjak adanya 13 unit mesin parkir meter berdiri di Kawasan Kali Besar, Tamansari, Jakarta Barat, kini membuat sejumlah juru parkir (jukir) liar, pusing.

Bahkan, banyaknya spanduk larangan parkir kendaraan terpajang di Kawasan Kota Tua, membuat para jukir liar gigit jari dan memutar otak untuk bisa mendapat lapak parkir liar yang baru.

"Semenjak dibangun Kawasan Kali Besar, kami yang jukir-jukir di Kota Tua bingung pak. Lapak parkir kendaraan yang sudah kita kelola capek-capek, ludes juga diambil alih pemerintah. Tadi kita bisa makan buat besok, sekarang kita jadi mikir. Mau bagian mananya lagi Kawasan Kota Tua yang bisa jadiin lahan parkir. Segala mesin parkir meter dipasang, serta spanduk larangan parkir terpanjang banyak, buat kita bingung ya. Mau dimana lagi," ungkap pria mengaku-ngaku bekerja sebagai jukir liar, Antonih (Bukan nama sebenarnya) kepada Warta Kota, Jumat (13/7) siang.

Antonih mengatakan sebelum di Kawasan Kali Besar dibangun, selama 15 tahun bekerja jukir liar, sangat menguntungkan.

Per-hari, ujar pria berusia sekitar 30 tahun, dapat uang hasil dari parkir liar sebesar Rp 1 Juta.

"Itu seharian, dari pagi, siang, sore, dan malam hari dapat buat saya doang Rp 1 Juta. Kadang, ada saja pengunjung Kota Tua tuh ngasih duit lebih dari harga parkir. Mobil tarifnya cuma Rp 10.000, motor ya kadang Rp 3000, dan kadang juga Rp 5.000. Pengunjung ada saja kalau saya kasih kembalian bilang 'Ambil aja'. Bersyukur," katanya.

Selama adanya penguasa preman parkir liar di Kawasan Kota Tua, ucap Antonih, penghasilan parkirnya dipangkas.

Antonih mengatakan, Rp 500.000 harus menyetor ke bos preman parkir liar per-harinya.

"Nah sisanya ada kadang-kadang sekitaran Rp 250.000, Rp 400.000, kadang juga Rp 500.000. Namun, semenjak makin ramai Dishub di Kota Tua, apalagi di Kawasan Kali Besar, terkadang seharian hasilnya buat saya sendiri. Sekitar Rp 400.000. Kalau ditagih bos, saya cuma ngasih setengahnya, Rp 200.000. Ada yang nagihin ke jukir-jukir liarnya," ujarnya.

Tetapi, Antonih kini sedikit ragu ingin teruskan profesinya tersebut. Diakui Antonih semenjak parkir kendaraan pengunjung Kota Tua saat ini diperketat pihak Suku Dinas Perhubungan dan Transportasi Jakarta Barat, ia mengaku pusing dan ingin menyerah.

"Nyerah sih mau nyerah. Penghasilannya, juga banyakan PKL (Pedagang Kaki Lima). Rencana sayanya sih, sudah ada niat mau jadi PKL saja lah. Kalau jaga parkir lagi, kadang rebutan juga dengan jukir lain. Kalau asik, bagi hasil. Tapi ya tergantung," jelas Antonih yang tak ingin sebut identitas bos preman parkir liar di Kota Tua itu.

Salah seorang juru parkir lainnya, Ryan (30), di Kota Tua juga mengatakan hal demikian. Sejak pihak Dishubtrans DKI Jakarta telah membuka lapak baru berbasis mesin parkir elektronik itu di Kawasan Kali Besar, penghasilannya itu pun makin menurun.

"Belum lagi, spanduk-spanduk larangan parkir sembarangan makin banyak dipajang. Waduh, mutar otak juga ya. Saya ngaku saja, memang jukir ilegal cuman kan butuh makan. Sejak Kali Besar jadi bagus begitu kesal saja saya. Lapak saya sebagian ada di situ. Jadi tergusur. Mulai saat ini, saya makin susah cari lapak. Mau tak mau nyari bos parkir kendaraan di Kota Tua ini ya (pemilik gedung parkir)," papar Ryan, sambil melengos dan enggan diwawancarai kembali.

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved