Home »

Depok

Warga Pesimis Pemkot Depok Berani Hilangkan Praktik Percaloan PPDB

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok M Thamrin saat dikonfirmasi Warta Kota mengenai jual beli bangku sekolah negeri di Depok ini tak membantah

Warga Pesimis Pemkot Depok Berani Hilangkan Praktik Percaloan PPDB
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Ratusan orangtua siswa miskin yang anaknya ditolak di SMP Negeri di Depok, dalam proses penerimaan siswa didik baru (PPDB) SMP 2018, menggeruduk Balai Kota Depok atau Kantor Wali Kota Depok, Rabu (11/7/2018) pagi. 

SEJUMLAH warga Kota Depok mengaku tak kaget dengan masih adanya praktik percaloan penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk tingkat SMP dan SMA Negeri di Kota Depok, atau praktik jual beli bangku sekolah saat PPDB.

Bahkan mereka mengatakan dari tahun ke tahun, praktik percaloan PPDB dan siswa titipan dilakukan semakin rapi sehingga semakin tak akan terungkap.

"Gak mungkin hilanglah praktik percaloan PPDB di Depok, atau jual beli bangku sekolah. Sebab sekarang, calo dan oknum pihak sekolah atau panitia PPDB nya sudah saling tahu dan kerjasamanya sudah jauh-jauh hari," kata Suhendi, warga Pancoran Mas, Depok, kepada Warta Kota, Kamis (12/7/2018).

Ia menjelaskan praktik percaloan PPDB di Depok sempat menjadi perhatian nasional pada 2016 lalu. Hal itu terjadi karena ada ratusan siswa yang orangtuanya sudah membayar hingga belasan juta ke calo ternyata tidak masuk ke sekolah negeri yang dijanjikan para calo yakni di SMAN 11 Depok.

Para orangtua siswa yang dibohongin dan jadi korban calo itu kemudian sempat mengadu ke disdik dan wartawan.

"Sehingga sempat booming, karena ortu siswa mengadu. Saat itu calonya hanya modal ngaku LSM dan wartawan, lalu minta bangku ke sekolah, untuk siswa yang ortunya sudah bayar ke dia. Sementara pihak sekolah menolak. Tahu gak, kenapa sekolah menolak menerima? Karena calonya gak bagi uang yang mereka dapat dengan pihak sekolah. Jadinya ya begitu. Itu tahun 2016. Setelah itu semuanya rapi, karena antara calo dan pihak sekolah atau panitia PPDB di semua sekolah negeri di Depok, saling berbagi uang dari ortu siswa yang bayar. Jadinya siswa yang bayar diterima semua dan gak ada gejolak," papar dia.

Karena hal itulah, Suhendi pesimis praktik jual beli bangku sekolah saat PPDB di Depok akan hilang. "Lha wong, semakin lama semakin rapi, cara kerjanya, jadi Pemkot akan merasa itu biasa walau tahu. Jadi setiap tahun, akan semakin dilindungi oleh pihak terkait," kata dia.

Hal senada dikatakan Widya, warga Cimanggis, Depok. "Setiap tahun pasti ada saja, teman atau tetangga saya yang anaknya bayar untuk masuk sekolah negeri di Depok," kata Widya.

Sebelumnya Widya merasa tahun 2018 ini praktik percaloan PPDB di Depok sudah tidak ada. "Sebab kan soal calo PPDB di Depok ini sempat booming tahun 2016. Lalu tahun 2017, masih ada tetangga saya yang bayar masuk SMA Negeri di Depok. Saya pikir waktu itu, karena peralihan mau bersih, wajar masih ada satu dua. Tapi 2018, saya optikis bakalan gak ada lagi. Ternyata saya salah. Justru tahun 2018 ini makin banyak dan makin parah," katanya.

Dan kini, sudah menjadi rahasia umum di Kota Depok bahwa bangku sekolah negeri baik SMP atau SMA Negeri di Depok bisa diperjual belikan setiap proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) berlangsung.

Halaman
1234
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help