Begini Ketegangan PSK dan Waria di Tangerang saat Terjaring Razia

Jajaran Satpol PP Kota Tangerang menggelar operasi besar-besaran, Rabu (11/7/2018) malam. Sejumlah PSK dan waria terjaring

Begini Ketegangan PSK dan Waria di Tangerang saat Terjaring Razia
Warta Kota/Andika Panduwinata
Kasatpol PP Kota Tangerang, Mumung Nurwana saat memberi nasehat kepada sejumlah waria dan PSK usai razia, Rabu (11/7) malam. 

JAJARAN Satpol PP Kota Tangerang menggelar operasi besar - besaran pada Rabu (11/7/2018) malam. Sejumlah pekerja seks komersial (PSK) dan waria terjaring dalam razia tersebut.

Giat ini berlangsung di dua lokasi. Di antaranya Pasar Induk Tanah Tinggi dan Jalan Otista Gerendeng Karawaci.

Dalam proses penangkapan, mereka yang terjaring tampak histeris. Bahkan ada yang menolak serta meronta saat digelandang ke Kantor Satpol PP Kota Tangerang.

Kasatpol PP Kota Tangerang, Mumung Nurwana saat memberi nasehat kepada sejumlah waria dan PSK usai razia, Rabu (11/7) malam.
Kasatpol PP Kota Tangerang, Mumung Nurwana saat memberi nasehat kepada sejumlah waria dan PSK usai razia, Rabu (11/7) malam. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Satu di antaranya yakni Ardi seorang waria yang kerap mangkal di Tanah Tinggi. Ia biasa disapa dengan sebutan Lusi.

"Jangan dibawa pak, jangan dibawa. Ampun..." teriak Lusi ketika diamankan petugas.

Begitu pun dengan Nuryati salah satu PSK yang terjaring di depan Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang ini. Dia memelas dan memohon kepada aparat.

"Saya cuma janda, kasihan anak saya. Enggak ngulangin lagi kayak gini," ucap Nuryati sempat menangis saat diangkut ke dalam mobil patroli.

Ketegangan juga sempat terjadi dalam penangkapan ini. Bahkan aksi saling kejar - kejaran pun mewarnai proses operasi.

Sebagian PSK dan waria lainnya berhasil lari. Mereka yang terjaring segera dilakukan pendataan oleh petugas.

"Total ada sembilan orang yang kami amankan," ujar Kasatpol PP Kota Tangerang, Mumung Nurwana kepada Warta Kota, Kamis (12/7/2018).

Ia menjelaskan razia ini merupakan tindakan untuk menegakan Perda Nomor 8 tahun 2005. Yakni tentang penertiban dan pelarangan praktik prostitusi.

"Kami terus lakukan patroli dan operasi di titik - titik rawan prostitusi," ungkapnya.

Menurutnya para personel menggelar operasi rutin tiap malamnya.

Antisipasi pun diupayakan dengan melibatkan aparatur sekitar seperti dari tingkat Kecamatan, Kelurahan, RW dan RT.

"Mereka yang terjaring kami data dan diserahkan ke Dinas Sosial," papar Mumung. (dik)

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help