Lebih 7 juta Orang Konsumsi Tembakau dan Hampir 900.000 Perokok Pasif Meninggal Setiap Tahun

Menurut WHO, penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah.

Lebih 7 juta Orang Konsumsi Tembakau dan Hampir 900.000 Perokok Pasif Meninggal Setiap Tahun
Kompas.com
Ilustrasi rokok. 

WARTA KOTA, PALMERAH----Menurut WHO, penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah.

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Lebih dari 17 juta orang meninggal setiap tahunnya karena penyakit kardiovaskular dan 80 persen berasal dari negara-negara kecil dan berkembang.

Baca: Perokok Kebanyakan dari Keluarga Miskin, Biaya Perawatan Penyakit Jantung Mencapai Rp 7,4 Triliun

Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskular 7,4 juta (42,3 persen) di antaranya disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3 persen) disebabkan oleh stroke.

Salah satu faktor risiko dari penyakit kardiovaskular yaitu mengonsumsi tembakau yang menempati posisi kedua setelah hipertensi.

Lebih dari 7 juta orang yang mengonsumsi tembakau dan hampir 900.000 perokok pasif meninggal setiap tahunnya.

Baca: Ancaman Rokok, 10 Juta Orang Perokok Meninggal Tahun 2025

"Faktanya perokok bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga orang di sekelilingnya yang menjadi perokok pasif dan third-hand smoker, yaitu mereka yang bersentuhan dengan benda-benda yang terkena paparan asap rokok," kata Laksmiati A Hanafiah, Ketua III Yayasan Jantung Indonesia dan Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau, beberapa waktu lalu.

Laksmiati mengatakan, fenomena masih murahnya harga rokok di Indonesia juga turut mendorong tingginya konsumsi.

Sehingga salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan konsumsi rokok adalah dengan meningkatkan harga produk ini.

Baca: Melarang Iklan Rokok, DKI Jakarta-Kota Bogor-Kota Bekasi Dapat Apresiasi dari Menteri Kesehatan

"Pengendalian konsumsi tembakau harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi, baik oleh Pemerintah maupun masyarakat. Pendidikan tentang bahaya tembakau dapat dimulai dari keluarga, sekolah dan komunitas-komunitas sehingga dapat menghindari munculnya generasi penerus konsumen zat adiktif ini," kata Laksmiati.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved