Hadapi Keluhan Orangtua karena PPDB Bermasalah, Wanita Ini Tak Pulang Sejak Jumat Pekan Lalu

Menjadi operator PPDB yang belakangan carut marut ini membuat dirinya dan timnya bekerja sampai hampir 24 jam.

Hadapi Keluhan Orangtua karena PPDB Bermasalah, Wanita Ini Tak Pulang Sejak Jumat Pekan Lalu
WARTA KOTA/ZAKI ARI SETIAWAN
Salah satu petugas dari Hamura Digital Agency yang melayani keluhan dari ribuan orangtua murid di posko pengaduan PPDB di SMP 11, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (9/7/2018). 

SUDAH sepekan orangtua murid terus mendatangi posko pengaduan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) online tingkat SMP Tangerang Selatan.

Sejumlah sekolah yang terdaftar sebagai posko menjadi sasaran mengadu dan melepaskan emosi, karena khawatir anaknya tidak mendapatkan SMP pilihannya.

Selain orangtua murid, para petugas di SMP 11 Tangsel yang menerima keluhan, harus bekerja ekstra dari pagi sampai matahari tenggelam, demi melayani keluhan yang seakan tidak ada habisnya.

Baca: Anis Matta Dituding Internal PKS Ingin Bikin Partai Baru, Padahal Ini yang Sebenarnya Terjadi

Salah satunya adalah Elisabeth, wanita berkacamata yang mengaku tidak pulang sejak Jumat (6/7/2018) pekan lalu itu, memilih menginap di hotel di dekat SMP 11, Serpong, Tangerang Selatan.

Elisabeth adalah seorang Account Manager dari perusahaan Digital Agency, Hamura, pengembang dari sistem PPDB Tangsel.

Meski mengaku menjadi operator pengaduan keluhan bukanlah bagian dari pekerjaannya, Elisabeth dan rekannya merasa bertanggung jawab sebagai pengembang.

Baca: Sama-sama Biru, Zulkifli Hasan Jagokan Prancis Melenggang ke Final Piala Dunia 2018

"Seharusnya ini bukan kerjaan kita, karena harusnya sudah ada operator khusus," ujar Elisabeth di waktu senggangnya setelah bekerja satu hari penuh di SMP 11, Selasa (10/7/2018).

Menjadi operator PPDB yang belakangan carut marut ini membuat dirinya dan timnya bekerja sampai hampir 24 jam. Suka dan duka pun mereka telan kala menghadapi protes para orangtua.

"Aku sampe diinvite ke grup wali murid, mereka ngeluh di situ, aku jawabin satu-satu. Sehari sampe 256 chat masuk," ungkap Elisabeth.

Baca: Tidak Boleh Potong Hewan Kurban di Venue Berkuda, Anies Baswedan Minta Warga Maklum

Kejadian unik juga beberapa kali Elisabeth temui ketika berurusan dengan berbagai macam karakter orangtua murid.

"Kemarin ada yang dateng-dateng ngeluh panjang lebar, tapi pas udah beres dia langsung baik sama kita, senyum-senyum," papar Elisabeth, menceritakan salah satu karakter orangtua murid yang ia hadapi.

Kendati demikian, Elisabeth dan timnya harus tetap profesional saat mendengar dan membenahi setiap keluhan. Dirinya membayangkan menjadi orangtua yang khawatir anaknya tidak dapat bersekolah di tempat idamannya.

"Aku coba posisiin kayak mereka, resahnya gimana jadi orangtua," ujarnya. (*)

Penulis: Zaki Ari Setiawan
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved