Home »

News

» Jakarta

Hotman Paris Ditantang Pihak RS Grha Kedoya di Pengadilan Soal Dugaan Malapraktik

Hotman Paris tiba di RS Grha Kedoya sekitar pukul 14.00 WIB menggunakan mobil Bentley warna hitam miliknya.

Hotman Paris Ditantang Pihak RS Grha Kedoya di Pengadilan Soal Dugaan Malapraktik
Warta Kota/Hamdi Putra
Konferensi pers manajemen RS Grha Kedoya Jakarta Barat bersama korban dugaan malapraktik dan kuasa hukumnya, Selasa (10/7/2018). Kiri ke kanan : Hendri (Personel Manajerial), Deden Meldy (Kepala Humas), Hiskia Satrio Cahyadi (Wakil Direktur RS Grha Kedoya), Hotman Paris Hutapea (Pengacara Korban), Selvy (korban dugaan malapraktik) dan Jules (teman korban). 

Empat hari kemudian, sang dokter memberitahu bahwa ia telah mengambil dua indung telur Selvy dengan alasan berpotensi kanker.

Padahal, dokter Hardi Susanto dan pihak RS Grha Kedoya belum pernah melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap Selvy.

Sehingga potensi kanker yang dikatakan dokter tersebut hanya berdasarkan pada perkiraan saja.

"Waktu kamu lagi dioperasi saya buka dan saya dilema. Jadi saya ambil kedua indung telur kamu. Kamu nggak bisa punya anak lagi dan kamu nggak bisa Muaythai lagi tapi kamu hanya bisa yoga karena muaythai itu fisiknya keras dan kamu akan monopause," ujar Selvy menirukan perkataan dokter Hardi Susanto dalam keterangan persnya di RS Grha Kedoya Jakarta Barat, Selasa (10/7/2018).

Mendengar jawaban korban, Hotman Paris terlihat geram.

Sebab, perkataan kejam seperti itu sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang dokter kepada pasiennya.

Apalagi dokter tersebut mengambil dan membuang dua indung telur korban tanpa pemberitahuan dan izin terlebih dahulu dari pasiennya.

"Karena kami sudah bicara dengan dokter, indung telur itu bisa diambil kalau sudah ada biopsi dan sudah ada gejala kanker. Ternyata sama sekali itu tidak ada karena rekomendasi dari dokter internist hanya kista dan dari segi waktu pun itu belum ada penelitian terhadap apakah ada kanker atau tidak, karena tanggal 20 April malam dia ke sini tanggal 21 April pagi sudah dioperasi. Jadi tidak ada waktu untuk menyatakan bahwa telah dilakukan pemeriksaan kanker," tutur Hotman Paris Hutapea.

Sekiranya dalam keadaan darurat sekalipun bahwa harus diambil organ tubuh seorang pasien, dokter bisa mengambil tindakan jika pilihannya adalah hidup atau mati.

"Tapi ini kan kista nunggu 6 bulan pun tidak membahayakan. Karena waktu itu dia memang tidak dalam keadaan emergency. Jadi tidak ada alasan untuk mengambil dua indung telurnya," kata Hotman Paris.

Halaman
1234
Penulis: Hamdi Putra
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help