Perokok Kebanyakan dari Keluarga Miskin, Biaya Perawatan Penyakit Jantung Mencapai Rp 7,4 Triliun

Asap rokok meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS), dan bisa menyebabkan problem kesehatan serius pada anak-anak.

Perokok Kebanyakan dari Keluarga Miskin, Biaya Perawatan Penyakit Jantung Mencapai Rp 7,4 Triliun
Tribun Bogor
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH---Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) diperingati setiap 31 Mei dan tahun ini, World Health Organization (WHO) berfokus pada dampak tembakau pada kesehatan jantung orang-orang di seluruh dunia dengan mengangkat tema 'Tobacco Breaks Hearts' dan sub tema 'Choose health, not tobacco.'

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hubungan antara tembakau dan penyakit kardiovaskular, yang menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia dan juga untuk meningkatkan aktivitas dan kegiatan untuk menurunkan risiko kesehatan yang diakibatkan oleh tembakau.

Baca: Ancaman Rokok, 10 Juta Orang Perokok Meninggal Tahun 2025

Menurut WHO, tembakau adalah produk yang setiap tahun mengakibatkan lebih dari 7 juta kematian dan kerugian ekonomi sebesar 1,4 triliun dolar AS, dihitung dari biaya perawatan dan hilangnya produktivitas karena kehilangan hari kerja.

Selaras dengan hal tersebut, data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan tahun 2016 menyatakan bahwa pembiayaan perawatan kesehatan untuk penyakit jantung mencapai Rp 7,4 triliun, lebih dari 10 persen dibanding total iuran BPJS tahun 2016 sebesar 67,4 triliun rupiah.

Baca: Cegah Penyakit Jantung, Harus Menaikkan Cukai Rokok: Data dan Fakta Ini Harus Diperhatikan

Sayangnya, sekitar 80 persen dari 1,1 miliar orang perokok hidup di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Yang menyedihkan ialah bahwa sebagian besar perokok (sekitar 70 persen) berasal dari keluarga miskin dan usia produktif," kata Laksmiati A Hanafiah, Ketua III Yayasan Jantung Indonesia dan Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau, beberapa waktu lalu.

Baca: Melarang Iklan Rokok, DKI Jakarta-Kota Bogor-Kota Bekasi Dapat Apresiasi dari Menteri Kesehatan

"Seharusnya uang yang digunakan untuk membeli rokok bisa dialokasikan untuk membeli makanan dan minuman yang berguna untuk keluarga," kata Laksmiati.

Masyarakat harus paham, selain risiko penyakit kardiovaskular, asap rokok meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS), dan bisa menyebabkan problem kesehatan serius pada anak-anak, termasuk serangan asma berkali-kali dan parah, infeksi pernapasan, dan infeksi telinga.

Survei tahun 2014 oleh Global Youth Tobacco, satu tinjauan berbasis representasi sekolah secara nasional pada hampir 6.000 siswa kelas 7-9 (usia SMP) di Indonesia, menemukan lebih dari 60 persen siswa melihat iklan atau promosi rokok di tempat penjualan, atau melihat orang merokok di televisi, video, atau film.

Baca: Orangtua Merokok, Anak Bisa Stunting

Hampir 10 persen responden berkata mereka memiliki perihal yang terhubung dengan merek atau logo rokok tertentu.

WHO memperkirakan pemanfaatan tembakau telah membunuh setengah dari pemakainya; lebih dari lima juta orang di seluruh dunia, dan sekitar 240.000 orang di Indonesia setiap tahun. (gps)

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help