Ilmuwan Kembangkan Obat Tetes Mata untuk Mengobati Mata Rabun

Obat tetes mata tersebut diharapkan bisa menghilangkan kebutuhan terhadap kacamata atau lensa kontak.

Ilmuwan Kembangkan Obat Tetes Mata untuk Mengobati Mata Rabun
Warta Kota/ Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi. Sandiaga Uno, yang berkacamata. 

KACAMATA dan lensa kontak saat ini telah menjadi benda yang lazim ditemui. Salah satu alasannya adalah gangguan penglihatan.

Bagi orang dengan gangguan penglihatan, mungkin cerita perjuangan mengenakan lensa korektif adalah hal yang dirasakan sehari-hari. Mulai dari mata lelah atau kering, bingkai kacamata yang tak nyaman, hingga sakit kepala akibat lensa yang tak sesuai hampir selalu dirasakan.

Namun, kini ilmuwan berusaha untuk menghilangkan keluhan-keluhan tersebut. Mereka mengembangkan obat tetes mata yang memungkinkan untuk memperbaiki penglihatan seseorang.

Tentunya, obat tetes mata tersebut diharapkan bisa menghilangkan kebutuhan terhadap kacamata atau lensa kontak yang mahal dan tak nyaman.

Ilmuwan pengembang obat tetes mata tersebut adalah David Smadja, seorang dokter mata dari Shaare Zedek Medical Center, Israel.

Dia menggunakan nanopartikel untuk mengoreksi gangguan penglihatan seseorang.

Nanopartikel sendiri adalah bisang baru yang melibatkan pembentukan material atau struktur baru dalam ukuran yang sangat kecil, mendekati ukuran molekular.

Smadja tak bekerja sendiri.

Dia bersama dengan peneliti dari Bar-Ilan University, Israel mengembangkan obat tetes mata yang diisi dengan nanopartikel untuk memperbaiki penglihatan pasien rabun dekat (mata plus) dan rabun jauh (mata minus).

"Ini adalah konsep baru untuk memperbaiki masalah rabun," kata Samdja dikutip dari Jerusalem Post, Kamis (22/02/2018).

Hingga kini tetes mata tersebut belum diuji coba pada manusia.

Tapi, percobaan klinis terhadap hewan laboratorium memastikan obat tersebut bekerja dengan baik.

Percobaan pada 10 ekor babi menunjukkan bahwa tetes mata tersebut bisa memperbaiki masalah penglihatan ringan.

Sayangnya, detail lebih lanjut tentang seberapa sering pasien harus menggunakan obat tetes mata ini belum diketahui.

Ditambah lagi, mereka juga belum memahami efek samping obat tersebut.

Temuan dari Israel ini tentu memicu banyak komentar.

Salah satunya datang dari Robert Honkanen, seorang dokter mata dari SUNY Stony Brook Medical School and Hospital, AS.

Honkanen mengatakan, kesehatan kornea jangka panjang dan khasiatnya harus ditentukan sebelum ini menjadi pengobatan yang layak.

Ditambah, obat tetes mata tersebut saat ini baru terbukti memperbaiki rabun dekat dan rabun jauh pada hewan.

"Anda tidak pernah tahu dengan pengoptimalan mereka mungkin bisa memperluas jangkauan penglihatan mata," ujar Honkanen dikutip dari Newsweek, Selasa (06/03/2018). (Resa Eka Ayu Sartika)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved