Korban Malapraktik

Ibu Anak Kembar Gugat Dugaan Malapraktik RS Omni Alam Sutera

Gugatan perdata yang diajukan Juliana Dharmadi atas dugaan malapraktik di RS Omni Alam Sutera akan digelar Majelis Hakim Tangerang, Rabu besok.

Ibu Anak Kembar Gugat Dugaan Malapraktik RS Omni Alam Sutera
Instagram
Hotman Paris dan seorang wanita muda usia 28 tahun yang diduga korban malapraktik oknum dokter sebuah rumah sakit di Jakarta Barat, saat berada di Kedai Kopi Johny Kelapa Gading Jakarta Utara, Minggu (1/7/2018). 

GUGATAN perdata yang diajukan ibu anak kembar Jared Christopel dan Jayden atas dugaan malapraktik di Rumah Sakit Omni Alam Sutera akan digelar Majelis Hakim Tangerang, Rabu (11/7/2018) besok.

"Besok Rabu, gugatan perdata di Pengadilan Negeri Tangerang," kata sang ibu, Juliana Dharmadi saat dihubungi, Selasa (10/7/2018).

Gugatan itu ditujukan ke RS Omni Alam Sutera, dokter spesialis anak FL, dan dokter spesialis kandungan AHS karena dianggap melakukan malapraktik saat melakukan perawatan kedua anaknya.

Juliana menerangkan, pihak tergugat dianggap tidak meminta persetujuan dan pemberitahuan saat melakukan perawatan dua anak kembarnya, sehingga menimbulkan kerugian yang mengakibatkan keduanya mengalami cacat permanen.

"Anak saya bernama Jared mengalami kebutaan total dan Jayden menderita mata silinder," ujar Juliana.

Setelah mengetahui kondisi anaknya, Juliana mendatangi beberapa rumah sakit spesialis mata di Jakarta dan Australia.

Hasil dari keseluruhan pemeriksaannya, Jared mengalami kerusakan syaraf pada bagian retina sehingga tidak dapat dilakukan operasi dan transplantasi.

RS Omni dianggap tidak melakukan pencegahan sesuai prosedur standar operasional.

Selain itu, jajarannya juga tidak memberikan informasi yang jelas terkait kesehatan dan kondisi kedua anak kembarnya.

Oleh sebab itu, Juliana dan kuasa hukumnya, Maddonleo T Siagian menggugat dokter FL sebagai tergugat I, RS Omni sebagai tergugat II, dan dokter AHS yang turut tergugat.

Para tergugat diminta untuk ganti rugi secara meteril ataupun immateril sekira Rp 2,68 miliar.

Juliana sebelumnya juga sudah pernah melaporkan ke Polda Metro Jaya, namun kasusnya terhenti karena saat itu penyidik mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) sekitar tahun 2010.

Penulis: Zaki Ari Setiawan
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help