Selera Lokal Meningkat, Bahan Baku Masih Banyak Impor

Target industri makanan dan minuman tumbuh lebih dari 10 persen pada tahun 2018 bisa tercapai.

Selera Lokal Meningkat, Bahan Baku Masih Banyak Impor
Warta Kota/Muhamad Azzam
Selai dan jus hasil pengolahan buah pidada, salah satu jenis tanaman mangrove yang dikelola Komunitas Mangrove Hutan Mangrove dan PT Pembangkit Jawa-Bali UP Muara Karang. 

WARTA KOTA, KUNINGAN---Sejumlah produk makanan instan memperkenalkan varian khas Indonesia seperti soto bandung, rendang, hingga sambel matah. Begitu juga minuman dari bajigur, kunyit asam, dan lainnya.

Inovasi yang dilakukan para pengusaha untuk menghadirkan selera lokal dan diminati masyarakat membuat target industri makanan dan minuman tumbuh lebih dari 10 persen pada tahun 2018 bisa tercapai.

Baca: Viral di Australia, Donat Mie Instan Sekarang di Jakarta Juga Ada

Selain itu, kenaikan sektor industri makanan juga didukung para pebisnis pemula yang tidak banyak modal usaha. Cukup menjual secara daring.

"Perusahaan yang melakukan inovasi pertumbuhannya lebih cepat. Bisa lebih dari sembilan persen. Tapi kalau ngga ada inovasi pertumbuhannya gitu-gitu saja," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan fan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, belum lama ini.

Baca: Penghobby Makan Mie Instan Harus Tahu Inilah 10 Bahaya Mie Instan

Salah satunya dengan menghadirkan makanana lokal dalam kemasan yang lebih modern, dan juga lokasi serta suasana yang lebih dimodifikasi.

Selain makanan dan minuman instan, kedai kopi serta restoran dengan menu lokal yang telah dimodifikasi juga lagi tren.

Ia memberikan contoh kafe yang dipenuhi anak muda ketika punya menu roti panggang, mi instan yang menjelma jadi mi kekinian dengan topping yang beragam.

Menu lokal yang telah dimodifikasi ini bahkan bisa dianggap menjadi saingan makanan Thailand, Cina yang lebih dulu ada.

Sayangnya walapun dari segi menu sudah banyak yang mengarah ke lokal, bahan baku makanan lebih banyak impor.

Baca: GAPMMI: Industri Makanan dan Minuman Akan Tumbuh 10 Persen

Terigu, misalnya, masih 100 persen impor. Begitu juga gula, garam, pewarna, perisa, dan lainnya. Secara umum impor masih 80 persen-100 persen.

Halaman
12
Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved