Dijadikan Sarana Wisata, Jeritan Tukang Perahu Eretan Ini Bikin Terenyuh

WALI KOTA Tangerang berencana menata dan memaksimalkan penggunaan perahu eretan sebagai sarana wisata di Sungai Cisadane.

Dijadikan Sarana Wisata, Jeritan Tukang Perahu Eretan Ini Bikin Terenyuh
WARTA KOTA/ANDIKA PANDUWINATA
Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah berencana akan menata dan memaksimalkan penggunaan perahu eretan sebagai sarana wisata di Sungai Cisadane. Ia berharap dengan dikelolanya perahu tersebut tidak menghilangkan sumber pencaharian bagi para tukang eretan. 

WALI KOTA Tangerang, Arief R. Wismansyah, berencana menata dan memaksimalkan penggunaan perahu eretan sebagai sarana wisata di Sungai Cisadane.

Ia berharap dengan dikelolanya perahu tersebut tidak menghilangkan sumber pencaharian bagi para tukang eretan.

Seperti diketahui eretan menjadi sarana alat transportasi oleh masyarakat Tangerang. Perahu itu menghubungkan akses dari Neglasari ke Karawaci atau pun Neglasari tujuan Sepatan, Kabupaten Tangerang.

Namad (48) satu dari pengelola eretan berkeluh kesah terkait dengan rencana Wali Kota ini. Ia menganggap, ada sisi positif dan negatif jika perahu eretan diproyeksikan menjadi sarana rekreasi.

"Saya sudah mendapat kabar soal itu. Makanya sebagian bantaran Cisadane sekarang sudah diturap, untuk dilakukan penghijauan," ujar Namad kepada Warta Kota saat ditemui di Gang Macan, Neglasari, Kota Tangerang, Senin (2/7/2018).

Lelaki berusia 48 tahun itu mengaku saat ini saja kesulitan untuk mendapatkan penghasilan. Omzet yang diperoleh mengalami terjun bebas.

"Sekarang sudah sepi yang naik, karena dibangun jembatan. Takutnya lama kelamaan eretan bisa punah, apalagi dijadikan wisata," ucapnya.

Namad menjadi tukang eretan sejak tahun 1985. Dulunya alat transportasi ini menjadi kebanggaan warga.

"Dulu itu sehari bisa dapat Rp. 1 juta lebih. Sekarang paling cuma Rp. 200.000 sehari," kata Namad.

Bahkan sejumlah tukang eretan lainnya gulung tikar. Mereka bangkrut dan saat ini menganggur.

"Ada 14 orang teman saya sudah tidak bekerja lagi. Sepi banget, mau dapat penghasilan dari mana," ungkapnya.

Menurutnya, usaha eretan ini turun temurun dari orangtuanya. Ia terpaksa masih menggeluti usaha tersebut lantaran tidak ada pekerjaan lain.

"Dari pada nganggur, ya mendingan narik eretan. Pusing juga memang kalau sekarang, serba salah," imbuh Namad.

Namad berharap agar Pemerintah Kota Tangerang lebih bijak lagi terhadap para pengusaha eretan. Sebab saat ini dirinya beserta rekan profesinya merasa terpinggirkan.

"Kalau memang mau dijadikan sarana wisata, ya saya pribadi lihat dulu aturan mainnya. Sekarang aja sudah kesusahan. Takutnya harus bayar ini, bayar itu. Sedangkan penghasilan kita juga sulit. Buat keluarga bingung nutupinnya pakai apa," paparnya.

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help