Jangan Bohongi Rakyat, LRT Palembang Dan LRT Kuala Lumpur Bukan Sebanding

PROYEK Light Rail Transit (LRT) di Kota Palembang, Sumatera Selatan tidak bisa dibandingkan dengan LRT Kuala Lumpur di Malaysia.

Jangan Bohongi Rakyat, LRT Palembang Dan LRT Kuala Lumpur Bukan Sebanding
Warta Kota/Adhy Kelana
Sejumlah pekerja Light Rail Transit (LRT) tengah istirahat di tumpukan besi rel LRT di kawasan Kampung Makasar, Jakarta Timur, Rabu (2/5). 

PROYEK Light Rail Transit (LRT) di Kota Palembang, Sumatera Selatan tidak bisa dibandingkan dengan LRT Kuala Lumpur di Malaysia.

Dengan demikian, anggaran LRT Palembang tidak bisa dikomparatif dengan LRT Kuala Lumpur.

"Proyek LRT Palembang lebih murah dari proyek LRT Kuala Lumpur kata siapa? Seperti klaim Pemerintah Joko Widodo lewat Dirjen Perkeretaapian," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyouno melalui pesan elektroniknya, Kamis (28/6/2018) malam.

LRT Palembang cuma punya 13 stasiun persinggahan, sedangkan LRT Kuala Lumpur ada 26 stasiun persinggahan dan stasiun underground serta melintas jalur under ground sepanjang 2 Km.

"Jadi enggak bisa apel to apel hanya membandingkan cost per kilometer proyek pembangunan LRT saja. Cost project LRT di Malaysia lebih mahal karena fasilitasnya lebih banyak dan mengunakan sistim teknologi yang jauh lebih modern," jelas Arief.

"Sama kayak kita beli pesawat tempur, harga pesawat Sukhoi misal beda harganya dengan pesawat Sukhoi yang tidak dilengkapi fasilitas anti tetangkap radar dan pengecoh rudal, dan intrumens intrument lainnya, pasti jauh lebih murah, dibandingkan dengan pesawat Sukhoi dengan tipe yang sama tapi dilengkapi sistim anti rudal dan anti radar," sambungnya menambahkan.

Jadi, tegas Arief, tolong jangan bohongi masyarakat membandingkan proyek LRT yang biasa biasa saja teknologi dan lokomotif buatan dalam negeri dibandingkan dengan proyek LRT dengan teknologi yang lebih modern dengan lokomotif buatan Jepang yang super canggih.

"Project LRT Palembang 13 stasiun tanpan lintasan Under Ground biaya Rp 473 miliar per kilometer sedangkan LRT di Malaysia Rp 817 miliar untuk 26 stasiun pemberhentian dan lintasan Under Ground sepanjang 2 Km, yang tentu saja lebih mahal," ujarnya.

Lalu, di Malaysia cost tenaga kerja jauh lebih mahal, pembebasan harga tanahnya lebih mahal karena tanah di Kuala Lumpur harganya jauh lebih mahal dari Palembang.

Kualitas kontruksi juga jelas lebih bagus dibandingkan LRT di Indonesia yang pernah ambruk seperti proyek LRT Pulomas.

"Jadi memang sangat mahal kalau proyek LRT KW3 dihargai Rp 473 miliar per kilometer dibandingkan proyek LRT KW1 yang dihargai Rp 817 miliar per kilometer," demikian Arief.

Arief mendorong agar audiy proyek tersebut segera dituntaskan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk selanjutnya dikirim ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help