Korupsi KTP Elektronik

Hari Ini Fredrich Yunadi Bacakan 1.250 Halaman Pleidoi

Pembacaan pleidoi tersebut seharusnya dilakukan Fredrich pada persidangan 8 Juni 2018 lalu.

Hari Ini Fredrich Yunadi Bacakan 1.250 Halaman Pleidoi
Warta Kota/Henry Lopulalan
Terdakwa kasus perintangan penyidikan kasus korupsi KTP elektronik Fredrich Yunadi bersiap mengikuti sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Bungur Besar, Jakarta Pusat, Kamis (31/5/2018). 

FREDRICH Yunadi akan membacakan nota pembelaan alias pleidoi, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (22/6/2018) hari ini.

Saat dikonfirmasi, Mujahidin selaku penasihat hukum terdakwa kasus dugaan tindakan merintangi penyidikan kasus korupsi KTP elektronik itu, sudah menyiapkan 1.250 halaman pleidoi untuk dibacakan di persidangan.

“Sudah jadi pleidoinya, sekitar 1.250 halaman,” ujarnya saat dikonfirmasi pagi ini.

Baca: Empat Pencuri di Ciputat Pecahkan Kaca Mobil Lalu Gondol Rp 100 Juta dan 18 Ribu Dolar Singapura

Pembacaan pleidoi tersebut seharusnya dilakukan Fredrich pada persidangan 8 Juni 2018 lalu. Saat itu, Fredrich mengungkapkan bahwa penasihat hukumnya tidak hadir dalam persidangan karena sudah mengajukan surat permintaan pengunduran agenda pembacaan pleidoi ke pihak majelis hakim dan pengadilan.

Permintaan itu diajukan lantaran pihaknya baru menyelesaikan 602 halaman dari total sekitar 1.200 halaman yang ditargetkan.

“Penasihat hukum secara resmi sudah menyampaikan surat permintaan pengunduran agenda karena kami baru selesaikan 602 halaman dari sekitar 1.200 halaman pleidoi yang ditargetkan, ini sudah saya bawa,” ungkap Fredrich saat itu.

Baca: Jokowi Naikkan Gaji Babinsa 771 Persen Mulai Bulan Depan, Paling Kecil Bakal Terima Rp 2,7 Juta

Namun, tawaran Fredrich untuk menunjukkan sebagian pleidoinya, ditolak oleh majelis hakim saat itu.

Jaksa penuntut hukum mengajukan tuntutan 12 tahun penjara dan denda Rp 600 juta subsider enam bulan penjara kepada Fredrich, karena diduga mengondisikan terpidana kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, agar tidak bisa diperiksa KPK dengan diagnosis penyakit hipertensi, usai mengalami kecelakaan di kawasan Permata Hijau, Jakarta Barat.

Ia juga diduga meminta dokter Bimanesh Sutardjo untuk mengatur skenario perawatan Setya Novanto di Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

Fredrich diduga melanggar pasal 21 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. (Rizal Bomantama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved