Bom Sarinah

Divonis Mati, Aman Abdurrahman Menolak Banding

Bahkan, ketika sudah divonis, Aman memberikan isyarat dengan cara menggerakkan tangan kepada kuasa hukumnya.

Divonis Mati, Aman Abdurrahman Menolak Banding
TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Aman Abdurrahman mendengar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018). 

ASLUDIN Hatjani, kuasa hukum Aman Abdurrahman mengatakan, sebelum sidang kliennya sudah berniat akan sujud syukur jika divonis hukuman mati.

"Sebelum vonis tadi dia bilang seperti yang dilakukan tadi, kalau divonis mati dia akan sujud syukur kayak tadi," ungkap Asludin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (22/6/2018).

Namun, Asludin tidak mengetahui secara jelas apa alasan Aman bersujud syukur ketika divonis hukuman mati oleh majelis hakim.

Baca: BREAKING NEWS: Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Vonis Mati Aman Abdurrahman

"Itu keinginan beliau sendiri," katanya.

Bahkan, ketika sudah divonis, Aman memberikan isyarat dengan cara menggerakkan tangan kepada kuasa hukumnya.

"Tadi di persidangan ketika saya ajukan pikir-pikir, Ustaz Oman terlihat menggerakkan tangannya atau memberikan isyarat seperti menolak dan mencegah saya untuk mengajukan pikir-pikir," beber Asludin.

Baca: Kuasa Hukum Nilai Vonis Mati Terhadap Aman Abdurrahman Sangat Dipaksakan

Meskipun begitu, Asludin tetap akan berbicara dan menawarkan Aman untuk mengajukan banding atau berlepas diri menerima vonis yang diberikan, meskipun sebelumnya Aman sudah meyakinkan untuk tidak mengajukan banding.

"Dia tidak ada keinginan untuk banding, beliau sudah angkat tangan untuk menolak banding. Tapi kami akan terus menanyakan beliau, apa akan mengajukan banding atau tetap berlepas diri, karena semuanya tergantung beliau," paparnya.

Aman dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim siang tadi pukul 11.15 WIB, dan dinyatakan terbukti menjadi otak serta penggerak beberapa kasus teror, yaitu bom Thamrin pada Januari 2016, bom di Gereja Samarinda pada November 2016, bom Kampung Melayu pada Mei 2017, penusukan polisi di Mapolda Sumut pada Juni 2017, dan penembakan polisi di Bima NTB pada September 2017. (*)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved