Home »

News

» Jakarta

Tes Psikologi di Penerbitan SIM, Pengamat Kebijakan Publik : Percuma!

PENGAMAT Kebijakan Publik menyebut tes psikologi sebagai syarat penerbitan SIM hanya percuma.

Tes Psikologi di Penerbitan SIM, Pengamat Kebijakan Publik : Percuma!
Warta Kota
Ilustrasi Surat Izin Mengemudi (SIM) 

PENGAMAT Kebijakan Publik menyebut tes psikologi sebagai syarat penerbitan SIM hanya percuma. 

Agus Pambagio, selaku Pengamat Kebijakan Publik, menyebut percuma lantaran praktik pungutan liar (pungli) atau SIM Kolektif masih marak.

"Dari catatan saya, 95 persen masyarakat yang ingin memiliki atau pemegang SIM itu rata-rata melalui jalur kolektif (calo/pungli/nyogok). Yah itu karena, kalau ujian itu kelamaan bahkan tak lulus. Makanya Polisi itu kita dorong agar ujian SIM jangan mudah. Karena, kebanyakan orang (pemegang) SIM atau baru mau menggunakan SIM jalur kolektif, enggak paham aturan-aturan lalu lintas (lalin)," ujar Agus kepada Warta Kota pada Selasa (19/6/2018).

Menurut Agus, masih banyak pengendara yang melintas berlawanan arah bahkan melintasnya di jalur bus Transjakarta. Hal itu terjadi, karena kebanyakan pemilik SIM, tak ikut tes atau ujian dalam memenuhi syarat penerbitan SIM.

Baca: BIkin SIM Harus Tes Psikologi Mulai Tanggal Ini

Agus mengatakan, ia sudah berpesan ke pihak kelopolisian, memperketat penerbitan SIM. Dia juga mempertanyakan, apakah sengan adanya syarat tes psikologi bisa berjalan dengan baik.

"Tolong diperketat lah (penerbitam SIM). Kalau begini terus, bagaimana masyarakatnya dapat mematuhi aturan lalin. Jangan dibuat tak lulus, tapi kalau ngulang enggak bayar. Ini artinya ya, harus (diperbaiki) mulai dari hulunya. Kalau si pemegang SIM saja engga beres sejak awal di ujiannya, diluluskan, maka tetap saja tak beres di jalanan si pemegang SIM," ujarnya.

Ia menambahkan, "Tes psikologi kemungkinan ya untuk itu (taat peraturan lalin). Tapi, apakah polisi sendiri bisa menjamin bahwa adanya tes psikologi ini bisa berjalan dengan baik. Jangan masih ada SIM kolektif. Gitu. Nah, dengan ada tes tambahan ini, masyarakat berpikir 'Udahlah SIM-nya beli aja (tanpa ujian/lewat calo)," ucap Agus kembali.

Menurut Agus, kebanyakan masyarakat itu tak mau ribet dalam penerbitan SIM. Kalau sulit, ia mengatakan, masyarakat pun menempuh jalur kolektif yang lebih mudah mendapatkan SIM.

"Saya saran, SIM-nya dimahalin, ujiannya buat susah betul. Jadi lulus ya enggak lulus. Alhasil masyarakat kudu (harus) belajar dulu. Gitu kan ya. Nah sekarang ini kan enggak, polisi mau itu banyak-banyak dan masuknya (uang) di orang ketiga (calo/pungli). Jadi kalau masih ada juga masalah seperti ini, percuma ada tes psikologi ya kan?" papar Agus.

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help