MUI Ingin Mubalig yang Berceramah di Televisi Bersertifikasi

Ia mengakui MUI juga turut andil dalam merumuskan 200 mubalig yang disusun Kemenag tersebut.

MUI Ingin Mubalig yang Berceramah di Televisi Bersertifikasi
TRIBUNNEWS/FITRI WULANDARI
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi 

WAKIL Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi meminta adanya standarisasi kompetensi bagi mubalig atau penceramah yang menyampaikan dakwah Islam di acara televisi.

Hal itu dimaksudkan agar para mubalig bisa menyampaikan dakwah secara baik dan sesuai konten yang tepat bagi penonton televisi.

“Kami akan diskusi dengan dai dan mubalig yang sering tampil di televisi untuk mewujudkan itu. Kalau perlu ada dai bersertifikat, supaya jangan sampai ada yang salah menyebarkan ayat-ayat yang melenceng dari arti sebenarnya,” tutur Zainut saat ditemui di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (5/6/2018).

Baca: Koreografer Madonna Dilibatkan dalam Upacara Pembukaan Asian Games 2018

Zainut kemudian mencontohkan apa yang dilakukan Kementerian Agama dengan menyusun daftar 200 mubalig rekomendasi mereka yang sesuai standar kompetensi yang disepakati. Ia mengakui MUI juga turut andil dalam merumuskan 200 mubalig yang disusun Kemenag tersebut.

“Saya kira apa yang dilakukan Kemenag adalah sebuah inisiasi yang baik, di mana mereka meminta pertimbangan MUI dan sejumlah organisasi massa Islam dalam menyusun daftar 200 mubalig tersebut. MUI berpendapat hal itu bisa juga dilakukan terhadap mubalig di televisi,” paparnya.

Zainut mengatakan, apa yang dilakukan Kemenag adalah tuntutan dari masyarakat agar para mubalig memenuhi standar kompetensi dan menyampaikan sesuai kapasitas mereka.

Baca: Jusuf Kalla Usulkan Pemerintah dan MUI Bentuk Lembaga Kode Etik Khusus Dai

Ia menegaskan, standarisasi kompetensi untuk para mubalig yang menyampaikan dakwah di televisi, diperlukan agar menjaga spirit Ramadan.

“Kadang ada acara reguler yang dikemas dalam acara Ramadan, tapi spiritnya bukan Ramadan, itu yang harus dicegah, harus jadi perhatian serius, karena Ramadan ini dianggap sebagai momentum,” katanya.

Sementara, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nuning Rohyadi mencatat adanya potensi pelanggaran pada salah satu program penyampaian dakwah yang tayang pada Ramadan tahun ini.

“Dalam acara itu ada percakapan antara ustaz dan ustazah yang berbau konten dewasa, padahal itu acara anak. Padahal pilihan kata dalam acara seperti itu harus ramah anak. Kami mohon baik penceramah maupun stasiun televisi hati-hati,” bebernya. (Rizal Bomantama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help