Home »

News

» Jakarta

Dua Tokoh Intelejen Masuk Bursa Cawapres Jokowi

Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane pun menyakini bahwa saat ini ada dua nama tokoh berlatar belakang intelejen ikut disebut.

Dua Tokoh Intelejen Masuk Bursa Cawapres Jokowi
Warta Kota/Rangga Baskoro
Diskusi publik di UP2YU Cafe and Resto, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018). 

Peluang kedua Capres Jokowi dan Prabowo Subianto untuk kembali bertarung seperti di Pilpres 2014 besar terjadi. Keduanya kini sibuk mencari pasangan yang pas untuk mendampingi mereka di Pilpres 2019.

Menjadi fenomena menarik ketika muncul nama mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) As'ad Said Ali yang dianggap layak mendampingi Jokowi.

Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane pun menyakini bahwa saat ini ada dua nama tokoh berlatar belakang intelejen ikut disebut tepat masuk dalam bursa cawapres Jokowi 2019.

Yakni Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan dan mantan Wakil Kepala BIN As'ad Said Ali.

"As'ad Said Ali masuk lagi, ini menjadi suatu fenomena menarik, dua tokoh intelejen masuk dalam bursa cawapres. Ini sangat menarik," kata Neta, dalam acara diskusi di UP2YU Cafe and Resto, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).

Lebih lanjut, Neta berpesan agar tokoh intelijen berlatar belakang ulama NU itu perlu disosialisasikan super cepat jika hendak masuk ke bursa Cawapres Jokowi.

"Nama As'ad baru-baru ini muncul dan jika hendak mau maju, dia perlu sosialisasi super cepat masuk ke bursa yang serius," bebernya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai As'ad Said Ali pantas menjadi cawapres Jokowi lantaran selain pernah menjabat sebagai Wakabin juga merupakan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan representasi umat Islam.

Kata dia, As'ad Ali adalah pemimpin nasional yang memiliki paradigma, karakter, dan visi yang sesuai dengan ajaran Islam, berkualitas iman dan taqwa, representasi umat Islam juga dari kalangan santri.

"Dari partai ada nama Airlangga, Puan Maharani, Muhaimin Iskandar, Romy, non partai Sri Mulyani, Susi, Ridwan Kamil, Risma, TGB. Ada juga Budi Gunawan dan As'ad Said Ali sebagai tokoh NU juga muncul," tuturnya.

Menurut Karyono, pentingnya cawapres Jokowi dari latar belakang intelejen lantaran saat ini ideologi transnasional sedang meneror dunia termasuk Indonesia.

Sehingga diperlukan pihak yang mampu mengcounter perihal tersebut.

"Kalau ditanya layak, ya layak. Justru Rusia maju karena dipimpin orang intelejen 2 priode. Justru rusia lebih maju dan lebih stabil dan kuat setelah Rusia Runtuh," pungkasnya. (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help