Kasus Pelecehan Seksual

Mantan Perawat National Hospital Surabaya Ini Dituntut 1,5 Tahun Penjara 

Ada hal yang memberatkan hukuman terdakwa, yakni terdakwa berbelit-belit saat memberikan keterangan di persidangan.

Mantan Perawat National Hospital Surabaya Ini Dituntut 1,5 Tahun Penjara 
Kompas.com/Achmad Faizal
SIDANG lanjutan kasus pelecehan pasien RS National Hospital Surabaya. 

ZUNAIDI Abdillah, mantan perawat National Hospital Surabaya, terdakwa kasus pelecehan seksual terhadap pasien, dituntut hukuman 1,5 tahun penjara.

Tuntutan itu dibacakan jaksa Damang Amubowo dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (31/5/2018). Sidang tersebut digelar tertutup di ruang Tirta 1.

Terdakwa Zunaidi dijerat pasal 290 ayat 1 KUHP tentang Pencabulan yang dilakukan terhadap orang yang pingsan atau tidak berdaya. Kata Damang, ada hal yang memberatkan hukuman terdakwa, yakni terdakwa berbelit-belit saat memberikan keterangan di persidangan.

Sementara hal yang meringankan, terdakwa tidak pernah terlibat masalah hukum sebelumnya.

"Karena itu kami menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan," ucapnya usai persidangan.

Terpisah, M Sholeh, kuasa hukum terdakwa tetap bersikukuh bahwa kliennya tidak bersalah.

"Pekan depan kami siapkan pembelaan berdasarkan fakta dan saksi-saksi yang ada. Kami yakin, klien kami tidak melakukan pencabulan. Ini hanya rekayasa," jelasnya.

Sebelumnya, keluarga terdakwa Zunaidi Abdillah mengajukan permohonan praperadilan atas status tersangka Zunaidi Abdillah dalam kasus tersebut.

Langkah hukum itu diajukan karena polisi dianggap tidak memenuhi prosedur dalam menetapkan Zunaidi Abdillah sebagai tersangka kasus pelecehan seksual.

Namun upaya hukum itu gagal. Pasalnya, di tengah proses sidang praperadilan, agenda sidang perkara pokok sudah digelar pada awal April lalu. (Kontributor Surabaya, Achmad Faizal)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mantan Perawat National Hospital Surabaya Dituntut 1,5 Tahun Penjara"

Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help