Cerita Frantinus yang Bercanda Soal Bom dan Hasratnya Pulang ke Papua

Delapan tahun menjalani pendidikan di Untan, pada Maret 2018 Frans akhirnya diwisuda.

Cerita Frantinus yang Bercanda Soal Bom dan Hasratnya Pulang ke Papua
Twitter
Frantinus Narigi 

Frantinus Nirigi pasrah. Sejak peristiwa dalam pesawat Lion Air JT687 di Bandara Internasional Supadio pada Senin (28/5/2018) malam yang lalu, saat itu pula hasrat pulang kampung yang dia pendam selama 8 tahun, kandas.

Frans, sapaan akrabnya terlihat masih kebingungan. Saat ditemui Kamis (31/5/2018) siang, dia baru saja dipindahkan dari sel tahanan Polresta Pontianak ke Polda Kalbar. Saat itu Frans ditemani dua orang kuasa hukumnya di ruang Korwas PPNS Polda Kalbar, menunggu kelengkapan berkas pelimpahannya.

Sembari menunggu berkas tersebut, Frans bersedia diajak ngobrol didalam ruangan, setelah mendapatkan ijin. Kami pun mulai terlibat percakapan. Namun, karena saat itu masih dalam proses penyidikan, saya tidak mengarahkan pembicaraan terkait peristiwa di dalam pesawat tersebut.

Frans datang ke Pontianak pada tahun 2010 yang lalu. Saat itu dia datang seorang diri, dengan tujuan untuk mendaftar kuliah. "Saya datang sendiri ke Pontianak pada tahun 2010 yang lalu. Pada saat itu saya lihat daftar kampus secara online, di Universitas Tanjungpura ada Fakultas Fisip, kemudian saya berangkat ke sini," ujar Frans membuka obrolan.

Setelah tiba di Pontianak, Frans kemudian mengikuti tes dan diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Fisip Untan. Ketika pertama kali kuliah, Frans sempat tinggal di rumah kos. Sejak 2011 dia kemudian tinggal bersama abang angkatnya yang berasal dari Biak di Komplek Rimbawan, Jalan Parit Haji Husin II.

Delapan tahun menjalani pendidikan di Untan, pada Maret 2018 Frans akhirnya diwisuda. Frans merupakan anak ke 4 dari 12 bersaudara. Empat di antaranya sudah meninggal. Orangtua Frans tinggal di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Papua. Sebelumnya, kabupaten ini merupakan bagian dari Kabupaten Wamena.

Jarak antara Distrik Mugi menuju Wamena, ditempuh dalam waktu empat hari tiga malam dengan berjalan kaki. Selama kuliah, orangtua Frans hanya bisa dua hingga tiga kali dalam setahun pergi ke kota Wamena untuk mengirimkan uang kepadanya. Itupun dalam jumlah yang tidak terlalu besar, hanya berkisar antara Rp. 1.000.000 hingga Rp. 1.500.000 sekali kirim.

"Tergantung saat itu orangtua punya uang berapa. Dan jarak dari kampung ke Wamena itu tiga malam empat siang (4 hari 3 malam)," cerita Frans dengan logat Papua yang masih kental. Selama kuliah, Frans juga membiayai dirinya sendiri. Terkadang ada juga bantuan dana pendidikan dari kabupaten sejak dua tahun terakhir, itupun hanya setahun sekali dan tidak seberapa tergantung semester.

"Kalau saya sudah lapar sekali (benar-benar kehabisan uang), saya baru minta sama kakak yang di Jayapura. Kadang minta Rp 500 ribu, kadang satu juta. Tapi itu kalau sudah lapar sekali," ujarnya. Sejak menjejakkan kaki di Pontianak tahun 2010 hingga selesai kuliah pada tahun 2018, Frans belum pernah sekalipun pulang ke kampung halamannya. Begitu wisuda, Frans pun merencanakan untuk pulang kampung.

"Karena di kampung informasinya ada penerimaan PNS, jadi saya mau pulang untuk mengadu nasib, siapa tau diterima jadi PNS. Diterima atau tidak, jadi saya pulang, cek dulu," ungkapnya. Tiket pulang dia beli sejak dua bulan sebelum tanggal keberangkatan pada 28 Mei 2018 yang lalu.

Halaman
12
Editor: ahmad sabran
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help