Bom Sarinah

Sidang Vonis Aman Abdurrahman Digelar Sepekan Setelah Lebaran

Duplik atas replik dari Jaksa Penuntut Umum langsung dibacakan hari ini oleh Aman dan kuasa hukumnya, Asludin Hatjani.

Sidang Vonis Aman Abdurrahman Digelar Sepekan Setelah Lebaran
TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Aman Abdurrahman mendengar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018). 

MAJELIS hakim akan membacakan putusan terhadap terdakwa sejumlah aksi teror di Indonesia, Aman Abdurrahman, Jumat (22/6/2018) mendatang.

Majelis hakim yang dipimpin Akhmad Jaini mengatakan, keputusan hakim akan dibacakan setelah berdiskusi dengan keempat hakim lain.

"Jadi untuk putusan, setelah bermusyawarah, maka insyaallah kami bacakan pada Hari Jumat 22 Juni pada pukul 09.00 WIB,” ujar Jaini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (30/5/2018).

Baca: Aman Abdurrahman: Silakan Pidanakan Saya Sesuai Keinginan Anda Semua

Dalam sidang putusan itu, ucap Jaini, pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman akan dihadirkan. Putusan diambil setelah sidang replik pada hari.

Sidang harusnya dilanjutkan dengan agenda duplik. Tapi, duplik atas replik dari Jaksa Penuntut Umum langsung dibacakan hari ini oleh Aman dan kuasa hukumnya, Asludin Hatjani.

Saat membacakan duplik, Asludin mengatakan Aman tidak bisa dituntut hukuman mati karena dituduh sebagai dalang teror bom Thamrin, Samarinda, ataupun Kampung Melayu dan Bima.

Baca: Jaksa Tolak Pleidoi Aman Abdurrahman, 16 Korban Bom Thamrin dan Kampung Melayu Tuntut Kompensasi

"Dalam perkara ini, JPU tidak bisa membuktikan bahwa terdakwa terbukti secara sah meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme," papar Asludin.

Menurut Asludin, Aman tidak menganjurkan kepada pengikutnya untuk jihad dan amaliyah di negeri sendiri. Kepentingan Aman, katanya, adalah memfasilitasi orang-orang yang ingin hijrah ke Suriah dan melaksanakan jihad ke sana.

Namun, JPU tetap menuntut Aman agar dijatuhi hukuman mati. Sebab, terdapat beberapa hal yang memberatkan aman. Yakni, Aman merupakan residivis dalam kasus terorisme. Kemudian, Aman pendiri Jemaah Ansharut Daulah yang dianggap menentang NKRI.

Aman dianggap penggerak agar pengikutnya melakukan jihad yang memakan banyak korban. Kemudian, melakukan teror yang makan banyak korban anak. (Dennis Destryawan)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help