Polisi Kumpulkan Pengusaha Hiburan Malam di Depok Cegah Massa Mengamuk

POLRESTA DEPOK mengundang sejumlah pengusaha hiburan malam di Depok, Senin (28/5/2018).

Polisi Kumpulkan Pengusaha Hiburan Malam di Depok Cegah Massa Mengamuk
WARTA KOTA/BUDI SAM LAW MALAU
Polresta Depok bersama Satpol PP Kota Depok kembali mengundang sejumlah pengusaha hiburan malam di Depok, Senin (28/5/2018), mencegah aksi massa geruduk tempat hiburan malam spt yang terjadi di Tapos, Depok. 

POLRESTA DEPOK mengundang sejumlah pengusaha hiburan malam di Depok, Senin (28/5/2018).

Hal itu dilakukan untuk mencegah terulangnya aksi massa yang menggeruduk 4 warung dan kafe di Jalan Raya Bogor, Tapos, Kota depok, beberapa waktu lalu. 

Pertemuan dengan para pengusaha hiburan malam di Depok itu digelar di ruang data Mapolresta Depok, Senin siang.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut sejumlah Kapolsek di bawah Polresta Depok.

Dalam arahannya Kapolresta Depok Kombes Didik Sugiarto meminta para pengusaha hiburan malam mentaati instruksi dan imbauan Wali Kota Depok, lewat surat edarannya agar tidak beroperasi dan menjalankan usaha mereka selama bulan Ramadan hingga H+3.

"Jadi agar surat edaran Wali Kota Depok itu dipatuhi para pengusaha hiburan se Kota Depok untuk mencegah kerawanan," katanya, Senin.

Kepala Satpol PP Kota Depok, Yayan Arianto menuturkan acara pertemuan kembali dengan para pengusaha hiburan se Kota Depok tersebut digelar agar peristiwa massa yang nyaris berbuat anarkis terhadap empat warung sekaligus kafe di Jalan Raya Bogor, Tapos, Sabtu (26/5/2018) lalu, tidak terulang kembali.

"Untuk mencegah hal seperti terulang, pertemuan dengan pengusaha hiburan se Kota Depok ini kembali digagas Polresta Depok," kata Yayan.

Dalam pertemuan itu kaya Yayan sekaligus mensosialisasikan kembali ke para pengusaha hiburan malam bahwa selama Ramadan tempat usaha mereka dilarang beroperasi.

"Larangan beroperasinya usaha hiburan malam di Depok selama Ramadan, tertuang dalam Perda Depok Nomor 16 Tahun 2013 tentang Kepariwisataan," kata Yayan.

Dalam Perda tersebut katanya, di Pasal 46 ayat 7 menyebutkan bahwa khusus bagi bar, kelab malam, diskotik, karaoke/rumah bernyanyi, pub, panti pijat, rumah biliard, spa dan sanggar seni budaya tradisional yang bersifat usaha dan hiburan, dilarang mengoperasikan kegiatan usahanya pada bulan suci Ramadan dan hari-hari besar keagamaan.

"Kami harap dengan pertemuan ini semua pengusaha hiburan malam patuh, sehingga kejadian seperti di Jalan Raya Bogor, Tapos, tidak terulang," kata Yayan.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help