Ramadan 2018

Menengok Masjid Besar Suruh, Sisa Kejayaan Zaman Mataram 

Piagam beraksara Arab Pegon dan aksara Jawa tersebut "ditandatangani" oleh Kiai Mas Ngabehi AstraWijaya, salah seorang adipati Semarang..

Menengok Masjid Besar Suruh, Sisa Kejayaan Zaman Mataram 
Kompas.com/Syahrul Munir
KENTONGAN dan beduk Masjid Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Masjid ini didirikan tahun 1816 dan menunjukkan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram. 

PECAHNYA Kesultanan Mataram menjadi dua wilayah, yakni Surakarta dan Yogyakarta, ternyata tidak memengaruhi geliat dakwah Islam di tanah Jawa kala itu.

Bahkan di masa-masa menjelang pecahnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, sejumlah bupati di bawah Kasunanan Surakarta kala itu masih bisa menginisiasi berdirinya sejumlah masjid. Salah satunya adalah Masjid Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.

Berdasarkan tarikh (sejarah) yang terdapat di sebuah piagam yang terpasang pada dinding masjid, Masjid Besar Suruh diresmikan pada Hari Ahad (Minggu) delapan belas hari, bulan Muharam tahun Bi Hijratan Nabi Shollahhu Alaihi Wasallam 1232 H atau bertepatan tahun 1816 Masehi.

Piagam beraksara Arab Pegon dan aksara Jawa itu "ditandatangani" oleh Kiai Mas Ngabehi AstraWijaya, salah seorang adipati Semarang di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

"Kiai Mas Ngabehi Astrawijaya dikenal oleh warga dengan nama Kiai Domo. Sesuai dalam piagam, masjid ini berdiri tahun 1816," kata Ketua Takmir Masjid Besar Suruh, Achmad Ma'mun (72), saat ditemui, Rabu (23/5/2018) lalu.

MASJID Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, berdiri tahun 1816 dan merupakan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram.
MASJID Besar Suruh di Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, berdiri tahun 1816 dan merupakan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Mataram. (Kompas.com/Syahrul Munir)

Keindahan Arsitektur

Meskipun Masjid Besar Suruh telah berusia lebih dari dua abad, namun hingga kini masih berdiri kokoh. Kita masih bisa menyaksikan dan merasakan kemegahan dan keindahan arsitektur masjid tersebut.

Hal ini lantaran takmir dan masyarakat setempat sadar pentingnya melestarikan bangunan bersejarah.

"Semua bangunan ini masih asli, hanya di serambil yang baru," ujarnya.

Keberadaan Masjid Besar Suruh, katanya, saat ini telah masuk Benda Cagar Budaya dan sudah diregistrasi oleh badan yang berwenang untuk hal itu. Oleh sebab itu, keaslian bangunan masjid hingga kini masih dipertahankan.

Halaman
123
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help