Bom Sarinah

Aman Abdurrahman: Pelaku Bom Bunuh Diri di Surabaya Sakit Jiwa dan Putus Asa

Aman Abdurrahman, terdakwa perkara bom Thamrin, dalam pleidoinya mengutuk aksi teror yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur, dua pekan lalu.

Aman Abdurrahman: Pelaku Bom Bunuh Diri di Surabaya Sakit Jiwa dan Putus Asa
TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Aman Abdurrahman mendengar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018). 

AMAN Abdurrahman, terdakwa perkara bom Thamrin, dalam pleidoinya mengutuk aksi teror yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur, dua pekan lalu.

Menurut pendiri Jamaah Ansharut Daulah itu, tindakan bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak tersebut sama sekali tidak sesuai ajaran Islam. Dirinya menilai para pelaku merupakan orang yang sakit jiwa.

“Itu tindakan yang enggak mungkin muncul dari orang yang mengerti ajaran Islam. Ayah mengorbankan anak-anaknya, ibu bersama anaknya melakukan bunuh diri adalah orang-orang sakit jiwanya dan putus asa,” papar Aman dalam sidang beragenda pleidoi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jumat (25/5/2018).

Baca: Siap Divonis Mati, Aman Abdurrahman: Tidak Sedikitpun Saya Gentar dengan Hukuman Zalim Kalian

Aman juga menyebut bom bunuh diri yang dilakukan di depan Polrestabes Surabaya sebagai tindakan yang keji.

"Tindakan itu merupakan tindakan keji dengan dalih jihad," tegas Aman.

Aman dituntut hukuman mati oleh JPU. Dia disebut memenuhi seluruh dakwaan yang disusun JPU, yakni dakwaan kesatu primer dan dakwaan kedua primer.

Baca: Aman Abdurrahman: Saya Insyaallah akan Keluar Penjara Berupa Mayat Sebagai Syahid

Dakwaan kesatu primer, Aman dinilai melanggar pasal 14 juncto pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, sebagaimana dakwaan kesatu primer.

Sedangkan dakwaan kedua primer, Aman dinilai melanggar pasal 14 juncto pasal 7 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Aman dalam perkara tersebut didakwa sebagai sebagai aktor intelektual lima kasus teror, yaitu Bom Gereja Oikumene di Samarinda pada 2016, dan Bom Thamrin (2016). Aman juga terkait Bom Kampung Melayu (2017) di Jakarta, serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017). Dia terancam pidana penjara lebih dari 15 tahun atau hukuman mati.

Baca: Penyerang Mapolsek Maro Sebo Pernah Terlibat Kasus Curanmor dan Narkoba

Dalam tuntutannya, JPU menyebut tak ada hal yang meringankan. Alih-alih meringankan Aman disebut malah memiliki sedikitnya enam hal memberatkan.

Selain kasus tersebut, Aman pun pernah divonis bersalah pada kasus Bom Cimanggis pada 2010. Densus 88 menjerat Aman atas tuduhan membiayai pelatihan kelompok teror di Jantho, Aceh Besar yang menjerat puluhan orang, termasuk Abu Bakar Ba'asyir. Dalam kasus itu Aman divonis sembilan tahun penjara. (Fahdi Fahlevi)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help