Panti Asuhan Jadi Modus Baru Perdagangan Orang

membujuk orangtua para korban, bahwa anak mereka akan dimasukan ke panti asuhan," ucap Jamari

Panti Asuhan Jadi Modus Baru Perdagangan Orang
Wartakotalive.com/Ahmad Sabran
ilustrasi perdagangan orang 

Upaya melawan tingginya tingkat perdagangan manusia atau human trafficking di Nusa Tenggara Timur ( NTT) sudah dilakukan sejak lama. Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri memberikan atensi khusus. Presiden saat menghadiri puncak acara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-23 di Kota Kupang pada Sabtu, 30 Juli 2016 lalu, mendengar langsung informasi dari masyarakat, terkait maraknya kasus tersebut di Provinsi yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia itu.

Jokowi langsung menelepon Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk segera menuntaskan kasus human trafficking di NTT. Polisi lalu bergerak cepat dan langsung membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Human Trafficking pada Tahun 2016.

Satuan ini dibawah Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda NTT. Setelah dibentuk Satgas tersebut, polisi kemudian menangkap dan menahan 13 orang yang terlibat dalam kasus perdagangan manusia. Ke-13 pelaku tersebut ditangkap secara beruntun di wilayah Kota Kupang, mulai tanggal 7 Agustus 2016 hingga 15 Agustus 2016.

Para pelaku tersebut adalah berinisial YLR (38), NDC (26), DIMS (24), DSM (32), WFS (22), SP (30), YN (28), MF (33), RD (42), NAT (36), AL (24), YP (23) dan YU (34). Tak hanya sampai di situ, polisi juga menangkap sejumlah pelaku lainnya sepanjang tahun 2017 hingga 2018. Sebut saja AM alias BM, ditangkap pada 30 Desember 2017, karena mengirim korban atas nama Ance Juliana Punuf sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia secara ilegal.

BM diketahui melakukan pemalsuan dokumen Ance Juliana Punuf di kantor Imigrasi Jakarta Barat. Ia berkoordinasi dengan seorang agen di Jakarta berinisial LM. Bukan hanya itu saja, polisi juga menangkap aparat desa yang terlibat dalam kasus perdagangan manusia. Kepala Desa Limakoli, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, berinisial HK (56), ditangkap anggota polisi pada 2 Mei 2018.

HK terlibat kasus perdagangan manusia, dengan korban Naomi Hailitik. Naomi Hailitik direkrut dari desanya, tanpa diketahui oleh orang tuanya dan tidak memiliki dokumen. Saat direkrut pada tahun 2007 lalu, Naomi masih berusia 13 tahun. Penangkapan pelaku human trafficking yang terbaru yakni berinisial H, pada Minggu, 20 Mei 2018 kemarin.

H diamankan di Kecamatan Batu Putih, saat hendak membawa seorang korban berinisial YP, yang masih berusia 15 tahun atau di bawah umur. Modus baru Setelah banyak pelaku human trafficking ditangkap, para pelaku yang berhasil lolos, kemudian mencari alternatif lain guna memuluskan aksi mereka.

Namun, polisi pun tanggap dan berhasil mengungkap modus baru perdagangan manusia. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTT Kombes Yudi Sinlaeloe mengatakan, modus baru pengiriman calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal dari luar NTT menuju Malaysia dilakukan secara bergiliran.

"Kalau dulu dikirim secara bergerombol melalui bandara, sehingga berhasil digagalkan. Modus sekarang, mereka dikirim satu-satu sebagai TKI sehingga tidak kelihatan," kata Yudi kepada sejumlah wartawan belum lama ini. Semua TKI, lanjut Yudi, kemudian diberangkatkan dari Kupang menuju Surabaya, Jakarta, Tangerang, serta Medan.

Mereka kemudian dikumpulkan di tempat penampungan, dan disiapkan dokumen untuk diberangkatkan ke luar negeri. Sebagian besar paspor para TKI itu dibuat di Blitar, Siak, Pekanbaru, dan Batam, dengan semua identitas dipalsukan.

Halaman
12
Editor: ahmad sabran
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved