Pandji Pragiwaksono Belajar Jokes Lewat Penyiar Radio

Sebelum sukses menjadi stand up comedy-an, aktor sekaligus penulis Pandji Pragiwaksono (38) merasakan berkarir menjadi penyiar radio.

Pandji Pragiwaksono Belajar Jokes Lewat Penyiar Radio
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Pandji Pragiwaksono ketika berkunjung ke kantor Redaksi Warta Kota, Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018). 

SEBELUM sukses menjadi stand up comedy-an, aktor sekaligus penulis Pandji Pragiwaksono (38) merasakan berkarir menjadi penyiar radio.

Selama 10 tahun Pandji sibuk mengudara di salah satu perusahaan radio di Jakarta.

Ia mengaku dirinya belajar melucu ketika menjadi penyiar radio bersama rekannya, Staney.

Pandji Pragiwaksono ketika berkunjung ke kantor Redaksi Warta Kota, Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018).
Pandji Pragiwaksono ketika berkunjung ke kantor Redaksi Warta Kota, Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018). (Warta Kota/Arie Puji Waluyo)

Pandji menegaskan bahwa melucu sangat lah susah. Terlebih membuat cerita yang berisikan jokes saat menjadi komika dan menghibur para penontonnya.

Terlebih membuat jokes dalam menjadi penyiar, penulis buku, dan stand up comedy-an sangat lah berbeda jika dipraktekan secara langsung.

"Sebenarnya secara umum stand up susah banget karena melawaknya verbal, dan juga bahasa sangat beragam di Indonesia kan," kata Pandji Pragiwaksono ketika berkunjung ke kantor Redaksi Warta Kota, Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018).

Meski sulit, Pandji mengaku hal itu menjadi sebuah tantangan dan pembelajaran, agar bisa sukses hingga saat ini dan bisa membuat konser tunggal bertajuk 'Pragiwaksono World Tour 2018'.

"Bisa melawak menggunakan bahasa Indonesia di bangsa yang beragam, tantangan tersendiri pastinya. Orang dialeg beda dan gaya serta diksinya berbeda. Tantangannya disitu," ungkapnya.

Pandi menjelaskan, ia beruntung sudah menjadi penyiar radio sebelum menjadi komika.

Pasalnya, sistem kerja menjadi penyiar, membuatnya mampu mengeluarkan jokes yang membuat penonton tertawa.

"Untungnya siaran radio, membantu saya belajar menulis materi. Siaran itu ada Colekan, isi, dan penutup yang berkesan, itu teori bikin materi siaran. Lagu udah selesai, lagu turunin dan kita mulai ngomong harus ada colekannya, isi, dan kalimat penutup yang berkesan," ucapnya.

Lanjut Pandji, meskipun sudah memiliki bekal membuat jokes saat menjadi penyiar, tentu ada rasa kesulitan ketika ia harus bisa menyampaikan candaannya yang bisa dimengerti para penonton.

"Jadi modalnya sudah ada dan yang susahnya itu untuk find tunning, sampai gak dikepala saya ke semua orang," ujar Pandji Pragiwaksono. (ARI)

Penulis: Arie Puji Waluyo
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved