Sebelum Tewas Terbakar, Dhea Sempat Menyiapkan Bapaknya Sarapan

Selain menghanguskan rumah, kebakaran itu juga memakan dua penghuni tewas terpanggang.

Sebelum Tewas Terbakar, Dhea Sempat Menyiapkan Bapaknya Sarapan
Warta Kota/Muhamad Azzam
Dedi Arifin menunjukkan foto Dhea Novealia semasa hidup. Dhea ditemukan tewas terpanggang saat api melalap rumah di Perum Kranggan Permai, Jalan Rajawali 12 Blok RR 9 No 2 RT 17 RW 15, Kelurahan Jatiraden, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Selasa (15/5/2018). 

WARTA KOTA, BEKASI---Jago merah melahap habis satu rumah di Perum Kranggan Permai, Jalan Rajawali 12 Blok RR 9 No 2 RT 17 RW 15, Kelurahan Jatiraden, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Selasa (15/5/2018).

Selain menghanguskan rumah, kebakaran itu juga memakan dua penghuni tewas terpanggang.

Mereka adalah pekerja rumah tangga, yakni Dhea Novealia (15) dan Dwi (14) yang diduga terjebak di dalam kamar di lantai dua. Rumah orangtua Dhea tidak jauh dari tempat kerjanya.

Baca: Dua Korban Kebakaran di Bekasi Tewas Dalam Posisi Berpelukan

Sebelum tewas terbakar, orangtua Dhea memiliki firasat sebab biasanya anaknya itu acuh, tiba-tiba lebih perhatian kepadanya.

"Firasat paling aneh saja. Beberapa hari sebelumnya, Dhea perhatian bangat dengan saya. Bahkan kemarin paginya saya sempat dibuatkan sarapan oleh dia," kata Dedi Arifin (50) saat ditemui dirumahnya di Gang Asem RW 01, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.

Dedi mengatakan, ia mengetahui kabar anaknya tewas terbakar dari pekerja salon yang menanyakan posisi anaknya.

Baca: Satu Rumah di Perum Kranggan Permai Bekasi Kebakaran, Dua Asisten Rumah Tangga Tewas

"Saya tahu dapat kabar kebakaran itu dari karyawan di salon dekat rumah yang terbakar. Dia tanya Dhea nginep di rumah enggak? Saya jawab enggak. Memang sering menginap di tempat kerja. Dia kasih tahu rumah tempat kerja Dhea kebakaran, saya langsung ke sana, dan benar api besar dan anaknya masih di dalam," katanya.

Dedi menyayangkan petugas pemadam kebakaran yang hanya fokus memadamkan api bagian bawah rumah, tetapi tidak dibagian lantas dua rumah.

Baca: Gara-Gara Mesin Kecil, Kantor Kelurahan Setu Kebakaran

"Saya pas sampai, api diatas masih besar tapi masih dibiarin begitu saja. Saya bilang pak itu di atas masih ada dua orang. Katanya kehabisan apa begitu. Jadinya tunggu bantuan dari Damkar Depok," katanya.

Atas kejadian itu, Dedi bersama istrinya hanya bisa pasrah menerima keadaan.

Ia berharap agar ada tanggung jawab lebih dari pemilik rumah kepada keluarganya.

Baca: Kebakaran Melanda Pemukiman Padat Penduduk di Cijantung

"Namanya musibah hanya bisa pasrah. Tetapi banyak hal yang ngeganjel, mulai dari dugaan kelalaian karena dibakar oleh anaknya yang autis. Anaknya tidak diselamatkan oleh pemilik rumah yang lebih memilih menyelamatkan mobil dan tindakan Damkar yang tidak cekatan saat masih ada orang terjebak di lantai atas," kata Dedi.

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved