Aksi Terorisme

Rhoma Irama: Teror Tidak Direkomendasikan oleh Seluruh Agama, Terutama Islam

Rhoma menilai aksi teror tersebut merupakan kekejian yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan agama apa pun, apalagi Islam.

Rhoma Irama: Teror Tidak Direkomendasikan oleh Seluruh Agama, Terutama Islam
WARTA KOTA/DWI RIZKI
Ketua Umum Partai Idaman, Rhoma Irama saat deklarasi koalisi Partai Idaman dengan Partai Amanat Nasional (PAN) di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. 

TEROR yang terjadi sejak pemberontakan teroris di Markas Komando (Mako) Brimob, Kelapa Dua Depok, Selasa (8/5/2018) hingga bom bunuh diri di Kota Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (13/5/2018) dan Senin (14/5/2018), disesalkan Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama.

Rhoma menilai aksi teror tersebut merupakan kekejian yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan agama apa pun, apalagi Islam.

"Teror tidak direkomendasikan oleh seluruh agama, terutama Islam. Karena Allah SWT secara eksplisit mengatakan 'barang siapa yang membunuh satu manusia yang tidak berdosa, maka seakan-akan telah membunuh seluruh manusia'," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (15/5/2018).

Baca: Tio Pakusadewo: Saya Berterima Kasih kepada Polisi yang Membuat Saya Mengerti Arti Kata Jera

Rhoma mengatakan, jangan sampai peristiwa teror yang dilakukan oleh oknum Umat Islam menjadi tudingan terhadap Islam. Sebab, kata dia, jika hal itu dibiarkan, maka akan berkembang menjadi kerusakan kerukunan antar-umat beragama. Kelompok oknum radikal, menurutnya, ada di semua agama.

"Dalam rangka kerukunan antar-umat beragama, jangan menuding dan menuduh Islam itu teroris atau Islam itu radikalis," katanya.

Raja dangdut ini menambahkan, memberantas terorisme tidak bisa dilakukan secara sporadis. Persoalan terorisme, menurut Rhoma, harus dilihat akarnya.

Baca: Sandiaga Uno Ingin Pengunjung Ancol Tembus 20 Juta Orang

Rhoma berpendapat, biasanya teroris bisa merupakan bentuk protes atau bentuk perlawanan dari kaum yang lemah terhadap arogansi yang kuat. Karena itu, kata dia, perlu instrospeksi apakah selama ini keadilan telah ditegakkan. Mulai dari keadilan politik, ekonomi, dan budaya.

"Apakah kita sekelompok ini telah melakukan toleransi secara sungguh-sungguh terhadap perbedaan? Apakah kesenjangan politik, sosial, budaya masih terjadi atau tidak? Diskriminasi terhadap berbagai aspek kehidupan masih terjadi atau tidak? Kita semua harus instrospeksi, baik pemerintah, elemen masyarakat, elemen-elemen bangsa. Ini harus dijadikan instrospeksi, sehingga tidak berkembang semakin besar," paparnya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved