Generasi Milenial Tak Loyal Terhadap Merek

Generasi dulu memiliki kesetiaan terhadap merek yang turun temurun. Tapi generasi sekarang, hal itu cenderung tak terjadi lagi.

GENERASI sebelumnya kesetiaan terhadap merek seringkali terjadi turun temurun. Misalnya merek pasta gigi yang digunakan ibunya akan digunakan lagi oleh sang anak ketika dia bisa memutuskan membeli pasta gigi.

Namun, zaman telah berubah. Telah terjadi pergeseran konsumen yang berbasis pengalaman. Terutama pada generasi milenial dan generasi Z yang saat ini mendominasi jumlah penduduk Indonesia. Bahkan demi liburan dan membeli produk elektronik, konsumen rela membeli produk yang lebih terjangkau (downgrading).

Generasi milenial adalah orang yang lahir 1980an sampai 1996. Sementara 1996 keatas masuk generasi Z.

"Konsumen di Indonesia tidak lagi merasa puas dengan sekedar produk saja. Mereka kini telah menjadi pembeli cerdas, yang mencari pengalaman melebihi produk dan jasa yang mereka gunakan," ujar Managing Director Neurosensum Rajiv Lamba saat memaparkan hasil riset bertajuk 'Memahami Tren Konsumen Masa Kini' di Hotel Westin belum lama ini.

Hal ini membuat mereka mengalihkan pengeluaran dari kategori Fast Moving Consumer Good (FMCG) tradisional seperti makanan dan minuman keberbagai kategori dan produk yang menyediakan aneka pengalaman seperti rekreasi dan liburan, gadget atau produk elektronik dan data seluler.

"Riset ini memperlihatkan bahwa perusahaan FMCG saat ini mengalami ancaman ganda," kata Rajiv. Di satu sisi, konsumen menurunkan jumlah konsumsi kategori FMCG atau berpindah merek yang lebih terjangkau demi peningkatan dalam perencanaan pembelian produk elektronik dan liburan. Di sisi lainnya, perusahaan FMCG menghadapi tantangan dengan kemunculan berbagai merek lokal yang mengambil pangsa pasar dari merek-merek lama yang sudah mapan di pasaran. Riset ini menunjukkan bahwa konsumen bersedia untuk membeli merek baru ketika ada penawaran unik atau pengalaman berbeda yang saat ini tidak atau belum bisa diberikan oleh merek-merek terkemuka.

"Penting bagi perusahaan untuk beralih dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah yang lebih menarik bagi konsumen. Karena konsumen menginginkan pengalaman yang lebih dari merek dan produk yang mereka gunakan," ujar Rajiv.

Selain tidak lagi loyal terhadap merek tertentu, riset tersebut juga menunjukan meningkatnya kebutuhan untuk rekreasi, kenaikan konsumsi produk elektronik dan data selular, serta bangkitnya kesadaran konsumen akan kesehatan dan kebugaran.

Riset yang dilakukan terhadap 1000 orang ini dilakukan oleh PT Neurosensum Technology International (Neurosensum), sebuah perusahaan riset/survei pasar berbasis teknologi Neuroscience dan Artificial Intelligence (Al). Metode yang dilakukan melalui wawancara tatap muka yang berlangsung pada Maret-April 2018 di 12 kota, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Palembang, dan Balikpapan.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help