Orang Indonesia Tidak Bisa Bilang Tidak

Orang Indonesia terkenal sopan dan ramah. Salah satu bentuk kesopanan yang diajarkan, tidak boleh mengutarakan sesuatu hal yang buruk

Orang Indonesia Tidak Bisa Bilang Tidak
Kompas TV
Ilustrasi. 

ORANG Indonesia terkenal sopan dan ramah. Salah satu bentuk kesopanan yang diajarkan, tidak boleh mengutarakan sesuatu hal yang buruk atau tidak baik.

Sayangnya hal tersebut mempengaruhi penilaian termasuk riset. Sehingga dikhawatirkan hasil atau kesimpulan dari penilaian tersebut menjadi sumir.

PT Neurosensum Technology International (Neurosensum), sebuah perusahaan riset/survei pasar berbasis teknologi Neuroscience dan Artificial Intelligence (AI) menggunakan cara tertentu.

Managing Director Neurosensum Rajiv Lamba mengatakan, konsumen Indonesia sopan. Diajarkan bahwa tidak sopan bila mengatakan tidak baik. Termasuk mengikuti sesi riset. Pada momen inilah butuh suatu neuroscience agar otak menandakan sesuatu tanpa mengatakan sesuatu. Dengan menggunakan alat tertentu akan terlihat kombinasi sesuatu dari gelombang yang membedakan ketika bilang suka dan tidak suka.Sehingga hasil riset lebih valid.

Rajiv menjelaskan, Neurosensum berpusat di Singapura dan baru berada di Indonesia sejak Februari 2018 lalu. Lewat riset yang memadukan wawancara tatap muka dan neuroscience ini sudah ada 15 perusahaan yang mempercayakan riset kepada Neurosensum. Diantaranya Danone, Garuda Food, Combiphar.

"Kita melakukan pendekatan yang berbeda. Perusahaan riset lain hanya riset biasa, tapi kalau kami menggunakan teknologi dan alat tertentu sehingga bisa kelihatan bagaimana suatu iklan misalnya bisa dilihat oleh konsumen lalu dipetakan," ujarnya. Terlebih konsumen semakin cerdas untuk mementukan pilihannya.

"Secara garis besar bisa kami kemukakan bahwa hasil riset menunjukkan adanya perubahan perilaku yang sangat signifikan dari cara konsumen menghabiskan uangnya dan ini akan menjadi tantangan yang besar bagi industri di Indonesia. Khususnya Fast Moving Consumer Good (FMCG) dan personal care. Perusahaan yang sudah lama hadir di pasar bisa kalah bersaing dengan perusahaan baru yang bergerak lebih gesit," kata Rajiv. Peran riset sangat menetukan untuk mengkaji perilaku konsumen dan pola konsumsi yang penting untuk menentukan strategi pemasaran berikutnya. (Lis)

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help