Kerusuhan di Mako Brimob

Cak Imin Usulkan Napi Kasus Terorisme Dimasukkan Program Tarekat

Narapidana terorisme, kata Cak Imin, sebaiknya ditempatkan di Lapas Nusakambangan.

Cak Imin Usulkan Napi Kasus Terorisme Dimasukkan Program Tarekat
Warta Kota/Hamdi Putra
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyebarkan virus-virus cinta kepada sekitar 600 orang warga RW 01 Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, pada Kamis siang (19/4/2018). 

KETUA Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) berharap narapidana kasus terorisme tidak ditempatkan lagi di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Narapidana terorisme, kata Cak Imin, sebaiknya ditempatkan di Lapas Nusakambangan.

"Sebetulnya sudah sejak sekarang dipindah per hari ini, sudah tidak ada lagi di Rutan Mako Brimob. Sudah selesai, jangan diulang lagi. Di situ enggak boleh lagi tahanan teroris. Tahanan teroris harus di Nusakambangan," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Baca: Ryamizard Ryacudu: Mengatasi Teroris Tak Bisa Gunakan Alutsista, Tapi Pakai Rakyat

Cak Imin mengaku memiliki konsep dalam menangani para narapidana teroris. Menurutnya, para teroris sebaiknya diikutkan ke dalam program tarekat.

"Itu jalan sufi menuju kedekatan Allah. NU punya, jadi seluruh tahanan teroris dimasukkan tarekat, langsung di bawah naungan Habib Lutfi misalnya, atau KH Said Aqil, baru NU bisa tangani," tuturnya.

Dengan dimasukan ke tarekat, para teroris diolah hati dan fisiknya.

Baca: Setelah Amien Rais Bertemu Fadli Zon, PAN Bakal Merapat ke Koalisi Partai Gerindra-PKS

"Tirakat itu mematikan fisik, tidak makan dan minum di jam tertentu. Hanya itu, tapi kenapa itu enggak dipakai?" ucapnya.

Menurut Cak Imin, seharusnya konsep tersebut yang dipakai. NU telah melakukan pembinaan terhadap beberapa mantan napi terorisme, meskipun jumlahnya tidak signifikan.

"Itu gampang sekali, yang kena, tiga tahun keluar, saya kira yang ikut tarekat akan berubah kembali humanis, kembali NKRI. Kenapa enggak dari dulu‎?" paparnya. (Taufik Ismail)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help