Sekjen PBNU: Masjid Tolak Politisasi dan Terorisme Atas Nama Agama

“Jangan sampai masjid ini dijadikan pusat gerakan terorisme. Masjid tolak politisasi, tolak terorisme atas nama agama,” ungkap Helmy

Sekjen PBNU: Masjid Tolak Politisasi dan Terorisme Atas Nama Agama
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Deklarasi takmir masjid menolak politisasi masjid, hoax dan radikalisme agama di Jakarta Islamic Center. 

SEKRETARIS Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini mengatakan takmir masjid harus mewaspadai dan melakukan pengawasan yang cukup ketat agar masjid bebas dari pihak-pihak yang ingin menyalahgunakan tempat ibadah.

“Jangan sampai masjid ini dijadikan pusat gerakan terorisme. Masjid tolak politisasi, tolak terorisme atas nama agama,” ungkap Helmy saat berada di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, Kamis (10/5).

Menurut Helmy, nantinya jika ada penceramah yang mengarah kepada provokasi, maka takmir masjid yang akan melakukan perlawanan. Sehingga kemungkinan terburuk yang tidak diharapkan bisa dicegah sedini mungkin.

Deklarasi takmir masjid menolak politisasi masjid, hoax dan radikalisme agama di Jakarta Islamic Center.
Deklarasi takmir masjid menolak politisasi masjid, hoax dan radikalisme agama di Jakarta Islamic Center. (Warta Kota/Junianto Hamonangan)

“Kami mendukung penuh dengan langkah-langkah yang dilakukan takmir masjid untuk mengantisipasi lebih dini supaya hal-hal yang tidak kita harapkan dapat diminimalisir,” ungkapnya.

Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta Taufik Damas mengatakan kampanye politik di dalam masjid membuat jamaah menjadi terbelah. Menurutnya juga tidak pantas apabila ada kampanye partisan mendukung salah satu calon atau partai.

“Sekarang ini banyak orang berkampanye di tempat ibadah, dan itu sungguh sesuatu yang tidak tepat. Masjid adalah tempat kita beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, tempat supaya orang bisa merasa aman dan nyaman,” ucapnya.

Taufik menambahkan agar para pengurus masjid memberikan himbauan moral kepada para penceramah yang diundang, mengangkat isu-isu selain politik. Sekalipun ada tema politik, bukan untuk mendukung individu atau kelompok tertentu.

“Bicara politik yang mencerahkan agar masyarakat mampu berpolitik dengan baik dan benar, tentu boleh saja. Tapi kalau kampanye, ya nggak boleh lah. Sama dengan bicara ekonomi di dalam masjid boleh tapi dagang di dalam masjid nggak boleh,” katanya. (jhs)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help