Pilpres 2019

Relawan #2019GantiPresiden Ini Nilai Ruhut Sitompul Lebih Bagus Ketimbang Jokowi

Penilaian itu disampaikan sebagai upaya meminta masyarakat tidak khawatir Indonesia kekurangan sosok calon presiden.

Relawan #2019GantiPresiden Ini Nilai Ruhut Sitompul Lebih Bagus Ketimbang Jokowi
tarbiyah.net
Mustofa Nahrawardaya 

RELAWAN #2019GantiPresiden Mustofa Nahrawardaya mengunggulkan politikus senior Ruhut Sitompul menjadi calon presiden dibandingkan Joko Widodo, untuk diusung di Pilpres 2019.

Menurut dia, Ruhut Sitompul lebih bagus dalam memainkan trik-trik politik dibandingkan Jokowi. Terbukti, Ruhut sudah beberapa kali pindah partai politik.

"Saya pikir Pak Ruhut lebih bagus daripada Pak Jokowi. Lebih bagus trik-triknya, lintas partai, bisa ke mana-mana. Sekarang kabarnya ke PDIP, jadi kausnya gonta-ganti. Sedangkan Pak Jokowi hanya PDIP. Saya pikir Pak Ruhut lebih bagus daripada Pak Jokowi, beliau bisa menggantikan nanti dalam 2019," tutur Mustofa dalam diskusi 'Politik Tagar Bikin Gempar' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4/2018).

Baca: Relawan #2019GantiPresiden: Yang Penting Ganti Dulu, Siapa Penggantinya? Belakangan

Penilaian itu disampaikan sebagai upaya meminta masyarakat tidak khawatir Indonesia kekurangan sosok calon presiden. Dia menilai, banyak sosok yang lebih bagus daripada mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Selain itu, dia melihat masyarakat menginginkan adanya perubahan kepala negara. Hal ini terbukti dari ramainya gerakan #2019GantiPresiden di media sosial.

Berdasarkan data yang ada, kata dia, selama kurun waktu 1 jam terakhir pada Sabtu pagi, sudah ada 290 twitt Tagar #2019GantiPresiden, sedangkan #TetapJokowi hanya 60 twitt.

Baca: Deklarator #2019GantiPresiden: Masyarakat Disuruh Ternak Kalajengking, Apa Itu Cerdas?

"Terbukti tweet ini membuktikan satu jam saja segitu. Hitung saja kalau 12 jam atau 24 jam dalam sehari. Hitung saja sejak kemarin saya Hari Minggu acara car free day tetap 60 saja, tidak akan naik, setiap jam saya rata-rata, sedangkan 2019 ganti presiden rata-rata di atas 400," bebernya.

Dia menilai perang tagar itu seperti permainan sepak bola, di mana ada dua klub bermain. Mereka mempunyai aturan, lapangan yang sama, serta harus menaati peraturan yang tidak berbeda.

"Itulah tagar, jadi siapa pun bisa memiliki tagar. Ini bukan bikinan ini. Ini yang disebut bahwa tagar-tagar itu mirip sepak bola, tidak mungkin satu pihak mengatakan 'kan bisa mengeluarkan buzzer'," paparnya. (*)

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help