Dampak Kekisruhan Internal Karyawan, Saham PT Garuda Indonesia Tbk Terus Anjlok

Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Sekarga) membeberkan dampak kekisruhan yang terjadi di dalam internal PT Garuda Indonesia Tbk.

Dampak Kekisruhan Internal Karyawan, Saham PT Garuda Indonesia Tbk Terus Anjlok
Warta Kota/Rangga Baskoro
Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Sekarga) mengancam akan melakukan mogok. Rencana itu terungkap ketika Sekarga memberikan keterangan kepada wartawan, Rabu (2/5/2018). 

WARTA KOTA, TANAH ABANG ---Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Sekarga) membeberkan dampak kekisruhan yang terjadi di dalam internal PT Garuda Indonesia Tbk.

Eric Ferdinand, anggota Asosiasi Pilot Garuda Indonesia, mengatakan, berdasarkan laporan tahunan 2017 PT Garuda Indonesia, perusahaan mengalami kerugian sebesar 213.389.678 dolar AS.

Baca: Satu Bulan dari Sekarang, Karyawan dan Awak Kabin Garuda Indonesia Ancam Mogok

"Hal itu diperparah dengan pergerakan nilai saham rupiah per lembar. Dari tahun 2016 hingga 2018. Saham per lembar terus menurun," kata Eric kepada wartawan, Rabu (2/5/2018).

Sejak kuartal ketiga tahun 2017, saham garuda per lembar senilai Rp 428, kemudian pada kuartal keempat sebesar Rp 338. Hingga pada tanggal 25 April 2018, kembali anjlok menadji Rp 292 per lembar saham.

Baca: Digugat Penumpang karena Pramugari Tumpahkan Air Panas, Ini Kata Garuda Indonesia

Selain itu, permasalah juga terjadi pada sistem penjadwalan kru yang diimplementasikan pada bulan November 2017.

Hal tersebut menyebabkan sejumlah rute penerbangan mengalami pembatalan dan penundaan.

"Ini yang bertanggungjawab direktur marketing dan IT. Kami yang di lapangan mendapatkan komplen secara masif oleh para pelanggan," katanya.

Sementara itu, Ahmad Irfan Nasution, Ketua Umum Sekarga, mengatakan, juga terdapat kebijakan dari direktur personalia yang dinilainya sangat merugikan para kru.

"Salah satu contoh, dia (direktur personalia) mengganti fasilitas penjemputan pilot menjadi ongkos transportasi. Bayangkan kalau kamu ada penerbangan subuh, harus berangkat sendiri dari rumah, pilot capek harus setir sendiri. Dia enak saja ngomong. Sementara keselamatan kami dan penumpang dipertaruhkan," kata Irfan.

Baca: KPK Sita Rumah Seharga Rp 8,5 Miliar Milik Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar

Tuntutan utama karyawan Garuda adalah meminta agar Presiden Joko Widodo dan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk melakukan RUPS ulang beserta menyederhanakan dewan direksi dari delapan menjadi enam orang saja.

Dua orang direksi yang diminta untuk dihilangkan yakni direktur kargo dan direktur marketing dan IT.

"Buat apa ada direktur kargo? Kami enggak punya pesawat khusus kargo. Hanya menghasilkan penambahan biaya operasi saja. Kemudian direktur marketing dan IT tidak mampu membawa Garuda menjadi lebih baik, nilai saham terus anjlok," kata Irfan.

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help