Home »

News

» Jakarta

Koran Warta Kota

Masak Ketua DPR Incar Tiang Listrik

Novanto juga menampik tudingan telah merencanakan mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik.

Masak Ketua DPR Incar Tiang Listrik
Warta Kota/Henry Lopulalan
MANTAN Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) memberi kesaksian dalam sidang lanjutan kasus merintangi penyidikan korupsi KTP elektronik dengan terdakwa Bimanesh Sutarjo (kiri) di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Jumat (27/4). 

MANTAN Ketua DPR Setya Novanto mengaku pingsan sesaat kecelakaan dan dibawa Rumah Sakit Permata Hijau Jakarta pada 16 November 2017 lalu.

Ia membantah keterangan sejumlah saksi jika dirinya berdiri saat buang air kecil di ruang rawat.

Novanto juga menampik tudingan telah merencanakan mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik.

Bantahan itu disampaikan Novanto saat menjadi saksi dalam sidang kasus merintangi penyidikan kasus e-KTP dengan terdakwa dokter Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (27/4).

Majelis hakim yang dipimpin oleh Syaifuddin Zuhri mengkonfirmasi keterangan saksi sebelumnya, perawat RS Medika, Indri, yang mengaku melihat Novanto bisa berdiri tegak ketika membuang air kecil di ruang rawat.

Bahkan, saat itu saksi Indri sempat menawarkan bantuan kepada Novanto. Namun, Novanto terkejut dan buru-buru kembali ke tempat tidurnya.

“Soal perawat lihat anda buang air kecil berdiri pukul 06.00 WIB itu benar?,” tanya hakim.

Novanto menjawab keterangan saksi Indri itu tidak benar dengan alasan ingat baru bangun dari tempat tidur pada pukul 08.00 WIB.

“Tidak ada yang mulia, kan ada istri dan saudara saya menginap, saya minta tolong istri saya. Yang (sayang) mau pipis,” kata Novanto.

Novanto kembali membantahnya saat hakim mempertegas kebenaran kesaksian saksi Indri itu.

Bahkan, Novanto menuduh saksi Indri telah mengarang cerita.

“Enggak ada, ngarang itu, yang mulia. Dia mengarang, dosa yang mulia,” katanya.

Kronologi

Dalam kesaksiannya, Novanto dengan lancar menceritakan kronologi kecelakaan mobil yang menimpa dirinya bersama mantan wartawan televisi swasta, Hilman Mattauch dan ajudannya Reza Pahlevi di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, pada 16 November 2017.

Ia mengaku sore hari itu berangkat menumpangi satu mobil dari Gedung DPR Senayan Jakarta.

Ia berencana menuju studio Metro tv di Kedoya Jakarta Barat untuk wawancara sebagaimana permintaan Hilman.

Menurutnya, saat itu sebenarnya dirinya hendak menyerahkan diri ke KPK pada pukul 20.00 WIB, namun diminta oleh Hilman untuk wawancara dahulu ke studio tv tempatnya bekerja di Kedoya, Jakbar.

Namun, karena khawatir waktu tidak terkejar, maka pihak stasiun tv melakukan wawancara kepadanya melalui sambungan telepon atau live by phone selama tiga menit..

Menurutnya, saat itu Hilman mengemudi mobil dengan kecepatan cukup tinggi masih tetap berteleponan dengan pihak stasiun kantornya untuk memastikan kedatangannya ke studio.

Dan tiba-tiba mobil yang dikemudikan oleh Hilman itu mengalami kecelakaan tunggal.

Tidak ingat

Novanto mengaku hanya ingat dirinya mengalami benturan di kepala dan tangannya saat mobil yang dikendarai Hilman menabrak sebuah benda. Dia tidak tahu benda tersebut.

“Saat itu yang anda tabrak apa? Tiang listrik? ,” tanya hakim.

Menjawab itu, Novanto mengaku tidak ingat apa yang ditabrak oleh Hilman saat malam itu karena kecelakaan terjadi begitu cepat.

“Saya enggak tahu. Tiba-tiba pas gedebak-gedebuk, saya tahu pas mutar,” ujar Novanto.

“Pas brak itu kira-kira posisi mobil gimana?” tanya hakim.

“Kayak terbalik kaya nabrak pohon atau jembatan. Ada benturan keras sekali. Benturan di sisi kiri saya,” sambungnya.

Ia mengaku saat itu tidak begitu sadar karena sudah sempat terbentur sebelum mobil berhenti.

Setelah itu, ia mengaku tidak mengerti sama sekali kejadian berikutnya. Dia hanya paham sudah berada di dalam rumah sakit dan bertemu dokter Bimanesh.

Dalam kesaksiannya, Setya Novanto mengaku ditawari berobat ke dua dokter hebat spesialis hipertensi yakni dokter Santoso dan seorang dokter Polri.

Dicecar hakim

Hakim dan jaksa KPK sempat mencecar pertanyaan kepada Novanto tentang dugaan kecelakaan mobil tunggal dengan menabrak tiang listrik hari itu adalah direncanakan alias settingan.

Sebab, Novanto juga sempat ditawarkan untuk berobat kepada dua orang dokter ahli untuk hipertensi pada seminggu sebelum hari-H kecelakaan.

“Jangan-jangan kecelakaannya rencana juga?” cecar hakim.

“Waduh, mohon maaf, nanti saya disalahkan Tuhan,” jawab Setya Novanto

“Atau tiang listrik sudah diincar (untuk ditabrak)?” cecar hakim lagi.

“Enggak berpikir sampai segitu, masak Ketua DPR nabrak begitu (incar tiang listrik --Red),” jawab Setya Novanto sambil tertawa. (Tribun Network/ryo/coz)

Selengkapnya, Baca di Harian Warta Kota Edisi Minggu, 29 April 2018

Halaman
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help