Diplomat Senior: Banyak Negara Puji Toleransi di Indonesia, Jangan Dirusak

"Masyarakat Indonesia harusnya bangga dengan situasi toleransi dan keberagaman yang dijunjung penuh kedamaian dan persatuan.."

Diplomat Senior: Banyak Negara Puji Toleransi di Indonesia, Jangan Dirusak
Istimewa
KEBHINEKAAN Indonesia yang satu harus dijaga. 

ANDHIKA Bambang Supeno, Diplomat Senior Indonesia, menyebut, sejumlah negara di dunia ingin belajar lebih dalam lagi mengenai toleransi yang ada Indonesia.

Meskipun Indonesia terdiri dari banyak etnis, bahasa, agama, namun penduduknya tetap memiliki rasa saling menghormati, satu sama lain, penduduknya tetap bersatu sebagai satu bangsa, Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

Maka, ia menyayangkan keindahan toleransi di Indonesia yang sudah menjadi 'trademark' di komunitas internasional mulai goyang.

"Masyarakat Indonesia harusnya bangga dengan situasi toleransi dan keberagaman yang dijunjung penuh kedamaian dan persatuan. Negara lain saja mau belajar dan mencontoh kita. Ya semoga kegaduhan-kegaduhan sekarang ini jangan sampai berlarut-larut, jangan sampai merusak citra negara kita yang sudah tinggi sikap toleransinya," tuturnya, saat berbincang dengan Warta Kota, di Jakarta, Jumat (20/4/2018)

Ia menambahkan dalam waktu dekat ini direncanakan para pemuka agama baik itu Katolik maupun Muslim di Filipina akan belajar untuk mengetahui nilai toleransi di Indonesia ini.

"Ya di tengah-tengah konflik di Filipina karena kurangnya toleransi antara umat beragama dan persatuan antarsuku disana, membuat para elit Filipina belajar akan keindahan toleransi dan kesatuan bangsa kita. Nanti tanggal 25 ini saya mau kesana, kalau mereka (Ulama dan Pastur) oke, langsung kita koordinasi dengan pihak sini (Indonesia) diterima sebagai tamu negara," ujar Andhika yang juga sebagai Diplomat Senior Konsulat Jenderal RI Kota Kinibalu.

Sulit Bersatu

Ia mengungkapkan negara Filipina saja yang hanya memiliki sekitar 13 suku saja sangat sulit untuk bersatu dan saling menghormati, mereka masih mengedepankan egonya dalam menunjukkan identitas suku mereka.

"Kalau di Indonesia kan banyak suku dan bahasa tetapi bahasa nasionalnya tetap satu bahasa Indonesia, tetap saling menghormati satu sama lain. Kalau di Filipina tiap daerah beda-beda bahasa, kemudian antara Islam dan Katolik tidak saling berinteraksi dengan baik," sambungnya.

"Berbeda dengan di Indonesia, ada gereja dan masjid saja berdampingan seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta Pusat. Sekolah juga terbuka untuk semua baik itu Islam maupun kristen, Budha dan Hindu," tandasnya. (M18)

Penulis: Gisesya Ranggawari
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help