Sejumlah Guru SD Korban Perkosaan Diselamatkan TNI dari Penyanderaan Gerombolan Pelaku Kabur

Kelompok bersenjata itu memukuli dan menendang para guru perempuan, tapi lalu dia menangis.

Sejumlah Guru SD Korban Perkosaan Diselamatkan TNI dari Penyanderaan Gerombolan Pelaku Kabur
Antara
Ibu kandung Pratu Viky Irad Uba Rumpaisum (kedua kanan) menangis saat peti yang berisi jenazah anaknya tiba di rumah duka di Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (3/4/2018). Pratu Viky gugur karena luka tembak pada pelipis kanan saat kontak tembak antara tim gabungan Brigif 20/IJK, Yon 754/ENK dan Yon 751/Raider dengan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di wilayah Banti Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika pada Minggu (1/4/2018). 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Seorang guru SD Negeri Aroanop di Distrik Tembagapura, Mimika, mengungkapkan, sejumlah tindak kejahatan yang dilakukan oleh anggota Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) OPM kepada dia dan tujuh rekannya.

"Jadi, bukan hanya tindakan kekerasan dan intimidasi, tetapi barang-barang kami dijarah oleh KKSB," kata Rano Samsul Bahri, salah satu guru yang dievakuasi TNI dari Aroanop ke Timika pada Kamis.

Pada Jumat, 13 April, setelah operasi aparat keamanan, anggota KKSB diduga melarikan diri dari Kampung Banti di Distrik Tembagapura memasuki Kampung Aroanop.

Samsul menuturkan bahwa pada Jumat sekitar pukul 15.00 WIT, sekitar 20 anggota KKSB memasuki rumah guru yang mereka tempati di Aroanop dan mulai mengintimidasi delapan guru yang ada di sana.

"Kami tidak tahu apa tujuan mereka. Kami ditodong dengan senjata api. Guru laki-laki dipisahkan dengan guru perempuan. Guru laki-laki ditodong dengan senjata api yang diarahkan ke kepala," katanya.

Samsul juga menuturkan bagaimana anggota kelompok bersenjata itu memukuli dan menendang para guru perempuan, tapi lalu dia menangis, tidak bisa lagi mengisahkan apa yang selanjutnya dialami para guru perempuan itu.

Guru perempuan itu diperkosa para pelaku, sehingga peristiwa ini begitu menyayat hati.

Hal tersebut membuat guru itu menangis sangat sedih.

"Mereka akhirnya kabur dengan membawa 10 unit telepon seluler, empat laptop, sebagian bahan stok makanan, bahkan pakaian kami diambil semua," katanya lagi.

Ia mengatakan para guru laki-laki tidak berdaya untuk melakukan perlawanan karena anggota KKSB seluruhnya membawa senjata api dan parang serta sangkur yang ditodongkan kepada mereka.

Samsul kembali menangis ketika ditanya apakah peristiwa itu menyurutkan semangatnya untuk mengabdi di wilayah tersebut.

"Kejadian itu tidak menyurutkan semangat kami, justru kami sedih karena alasan kami bertahan di Aroanop adalah nasib anak-anak didik kami, yang dua pekan depan akan melangsungkan ujian kenaikan kelas sementara kami harus dievakuasi ke Timika," kata Samsul.

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help