WartaKota/

Korea Selatan Pertama Kali Gelar Upacara Mengenang Korban Tragedi Sewol

Upacara penghormatan kepada korban dimulai pukul 3 sore waktu setempat dengan menayangkan video berjudul 'I Am Home' (saya di rumah).

Korea Selatan Pertama Kali Gelar Upacara Mengenang Korban Tragedi Sewol
Yonhap
Upacara penghormatan kepada korban Tragedi Sewol 

WARTA KOTA.COM,SEOUL - Untuk pertama kalinya Korea Selatan menggelar upacara resmi mengenang korban tragedi kapal feri Sewol yang tenggelam pada tanggal 16 April 2014.

Tragedi kapal feri Sewol menewaskan 300 penumpang dan sebagian besar adalah para pelajar yang akan berlibur ke pulau Jeju.

Sebanyak 5000 orang dari keluarga korban berkumpul di aula Ansan, Profinsi Gyeonggi untuk mengenang empat tahun tragedi Sewol yang karam di pantai barat daya 16 April 2014.

Ini yang pertama kalinya pemerintah membiayai upacara mengenang korban Sewol.

Presiden Park Geun-hye yang masih berkuasa saat peristiwa itu terjadi disalahkan publik karena tidak melakukan tindakan cepat untuk menolong korban dan tidak bertanggung jawab dalam membantu merawat korban yang selamat.

Kurang peduli pada kasus ini menimbulkan riak-riak di pemerintahan dan mendorong munculnya kasus korupsi Park yang berakhir dengan pemecatan dirinya dan akhirnya ia menerima hukuman penjara.

Upacara penghormatan kepada korban dimulai pukul 3 sore waktu setempat dengan menayangkan video berjudul 'I Am Home' (saya di rumah).

Baca: Ribuan Dukungan Suporter untuk Mario Gomez di Akun Instagram

Perdana Menteri Lee Nak-yon bersumpah akan melakukan segala upaya agar bisa membuat Korea Selatan menjadi tempat yang aman bagi penduduknya.

"Presiden Moon Jae-in akan melakukan segala upaya untuk membuat Korea menjadi tempat yang aman dengan cara selalu mengingat tragedi Sewol dan dengan sepenuhnya membuka kebenaran tentang kejadian itu dan belajar dari peristiwa itu," ujar Lee dikutip dari Yonhap.

Sebelum acara dimulai, sebanyak 1000 orang yang tidak ada kaitannya dengan keluarga korban berjalan sejauh 3,3 km mulai dari kantor pendidikan di Ansan melewati Sekolah Menengah Atas Danwon yang sebagian besar siswanya menjadi korban tragedi Sewol dan berakhir di lokasi acara utama.

Mereka membawa spanduk bertuliskan,"Kami akan mengenang, akan akan bersikap'. Mereka juga menggunakan pita kuning di lengan atau saputangan berwarna kuning yang menjadi simbol dari kenangan akan peristiwa itu.

"Sebagai orangtua, saya merasa sangat bersalah pada anak-anak yang seharusnya bisa diselamatkan tetapi tidak terselamatkan saat itu. Saya akan tetap berjuang hingga kebenaran terbuka," ujar Chang Jeong-hee (52).

Editor: Dewi Pratiwi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help