Nindya Karya Merugikan Keuangan Negara Hingga Rp 313 Miliar dalam Pembangunan Dermaga Sabang

Nindya Karya sebagai tersangka dugaan korupsi proyek dermaga Sabang tahun anggaran 2011-2016 oleh KPK.

Nindya Karya Merugikan Keuangan Negara Hingga Rp 313 Miliar dalam Pembangunan Dermaga Sabang
Warta Kota
Ilustrasi proyek yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Direktur Utama PT Nindya Karya (Persero) Tbk Indradjaja Manopol menjelaskan duduk perkara atas penetapan Nindya Karya sebagai tersangka dugaan korupsi proyek dermaga Sabang tahun anggaran 2011-2016 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Jadi, ketika 2012 itu, ada dana kurang lebih Rp 44 miliar yang merupakan hasil manfaat atas proyek dermaga Sabang sudah di-freeze oleh KPK sampai 2017 kemarin," kata Indradjaja saat ditemui di Sentul, Bogor, Sabtu (14/4/2018).

Indradjaja menambahkan, peristiwa itu terjadi pada masa direksi sebelumnya karena dia menyatakan baru masuk Nindya Karya pada Agustus 2014.

Pihaknya kemudian mempertanyakan apakah dana tersebut bisa digunakan, tetapi pada akhirnya itu tetap dibekukan oleh KPK.

Berkaitan dengan hal tersebut, Indradjaja pun mengaku siap jika harus bertanggung jawab atas keberadaan dana itu.

"Mungkin, ini sebagai konsekuensi bagi korporasi untuk mempertanggung jawabkan secara hukum atas hasil manfaat yang sudah diambil dari proyek Sabang. Tentunya, kami mengikuti aturan-aturan hukum itu sepanjang itu semua untuk memperbaiki korporasi agar lebih baik ke depannya," katanya.

KPK menetapkan PT Nindya Karya sebagai tersangka atas dugaan kasus korupsi proyek pembangunan dermaga Sabang menggunakan anggaran tahun 2006-2011.

BUMN itu dijerat bersama dengan PT Tuah Sejati.

Kedua perusahaan tersebut dianggap merugikan keuangan negara hingga Rp 313 miliar dalam pembangunan dermaga Sabang dengan nilai proyek mencapai Rp 793 miliar. (Ridwan Aji Pitoko)

Sebelumnya telah diunggah Kompas.com dengan tautan: Nindya Karya Jadi Tersangka Korupsi

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help