Ketua Umum PPP Menolak Ketika Diminta Koreksi Edisi Pertama Tabloid Obor Rakyat

Menurutnya, opini tersebut dibangun pertama kali lewat tabloid Obor Rakyat pada Pemilu Presiden 2014 lalu.

Ketua Umum PPP Menolak Ketika Diminta Koreksi Edisi Pertama Tabloid Obor Rakyat
dok. google
tabloid Obor Rakyat 

WARTA KOTA, SEMARANG - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy mengaku mengetahui asal muasal label komunis terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, opini tersebut dibangun pertama kali lewat tabloid Obor Rakyat pada Pemilu Presiden 2014 lalu. Cerita itu ia sampaikan ketika bersilaturahmi ke kediaman Ketua Ormas Alkhairaat Habib Sayyid Saggaf Muhammad Aljufri.

Romi menyampaikan bahwa saat itu ada oknum pendukung Prabowo Subianto yang meminta dirinya mengoreksi edisi perdana tabloid Obor Rakyat. Materi dari tabloid tersebut menyebut Jokowi adalah keturunan Tionghoa dan aktivis PKI.

Baca: Jimly Asshiddiqie: Kunci Seluruh Masalah Dunia Ada di Palestina

Romi yang saat itu menjadi Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo-Hatta langsung menolak materi edisi pertama Obor Rakyat itu, karena mengandung fitnah.

"Bahkan edisi pertama obor rakyat itu yang diminta mengoreksi adalah saya. Karenanya saya bisa cerita apa adanya. Ini bukan hoaks, ini fakta. Tapi saat diminta mengoreksi edisi pertama Obor Rakyat, saya menolak," ungkap Romi dalam sambutannya pada pembukaan Munas Alim Ulama di Hotel Patrajasa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4/2018).

Romi mengungkapkan, pembuat Obor Rakyat itu tidak terkait atau berada dalam struktur tim pemenangan Prabowo-Hatta. Oknum pembuat Obor Rakyat hanya oknum pendukung dari Prabowo.

Baca: Calon Kepala Daerah Tersangka Sebelum Pilkada, Jimly Asshiddiqie: Gara-gara Kasus Ahok Semua Kacau

Romy mengungkapkan bahwa saat itu tim pemenangan Prabowo-Hatta terdiri dari dua kubu, yakni kubu yang menyampaikan pikiran-pikiran produktif, dan kubu yang menyampaikan pikiran-pikiran provokatif.

"Tentu dalam pemenangan Pak Prabowo waktu itu banyak faksi. Ada yang resmi ada yang tidak resmi," jelas Romy .

Romy sempat mengingatkan bahwa edisi pertama tabloid Obor Rakyat yang mengaitkan Jokowi dengan PKI itu berpotensi melanggar hukum.

Baca: Wakapolri: Masjid Bukan Tempat Kampanye

"Kalau nanti Prabowo enggak menang kita bakal dapat masalah. Kalau menang, bisa jadi dengan kekuasaan bisa ditutup hukumnya. Tetapi kalau kalah bisa cilaka kita," beber Romy.

Akhirnya tabloid tersebut tetap diproduksi 1 juta eksemplar, dan dikirim ke 28 ribu pesantren serta ke 724 ribu masjid seluruh Indonesia. (Fahdi Fahlevi)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help