Home »

News

» Jakarta

Ibunda Anies-Sandi di Kampung Akuarium Keluhkan Masalah Listrik

Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, mengeluhkan masalah listrik satu token untuk beramai-ramai.

Ibunda Anies-Sandi di Kampung Akuarium Keluhkan Masalah Listrik
WARTA KOTA/HAMDI PUTRA
Penampakan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu (14/4/2018). 

Warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, mengeluhkan masalah listrik satu token untuk beramai-ramai.

Supiyati, salah satu warga Kampung Akuarium menuturkan bahwa saat ini satu token listrik diperuntukkan bagi enam unit shelter.

Wanita yang kesehariannya bekerja sebagai tukang cuci dan gosok pakaian itu, merasa kesulitan dalam berkerja dengan sistem listrik seperti itu.

"Saya ada mesin cuci, kadang dipakai kadang enggak. Ngerjain cucian orang malah sering manual. Kalau pakai mesin cuci nggak enak sama tetangga yang lain. Beli voucher kan ramai-ramai," ujar Supiyati yang mengaku memiliki anak bernama Mohamad Anies-Sandi kepada Warta Kota, Sabtu (14/4/2018).

Supiyati memberi anaknya nama Mohamad Anies-Sandi lantaran senang dengan kebaikan Anies membangun kembali Kampung Akuarium yang dibongkar Ahok. 

Supiyati (36) dan anaknya yang bernama Muhammad Anies Sandi (1) ketika dijumpai di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu (14/4/2018).
Supiyati (36) dan anaknya yang bernama Muhammad Anies Sandi (1) ketika dijumpai di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu (14/4/2018). (WARTA KOTA/HAMDI PUTRA)

Baca: Terinspirasi, Supiyati Beri Nama Anaknya Anies Sandi di Kampung Akuarium

Menurutnya, jika warga hanya menggunakan listrik untuk penerangan saja, sistem satu token bagi enam unit itu tidak masalah. Persoalannya, kebutuhan sehari-hari warga dalam hal listrik lebih dari sekadar untuk penerangan.

"Kami beli voucher listrik ramai-ramai Rp 100.000 cuma cukup untuk 3 sampai 4 hari. Pemakaian kami kan bukan cuma lampu doang. Kalau pakai agak besar kan gak enak lagi sama tetangga yang lain," jelasnya.

Demikian juga dengan Musdalifah, ia tidak dapat menggunakan peralatan listrik miliknya seperti biasanya. Padahal, jika setiap unit shelter memiliki tokennya masing-masing, akan mempermudah dan memperlancar aktivitas warga.

"Nyolokin ini nyolokin itu jadi serba gak enak sama tetangga. Kalau masing-masing unit punya token sendiri kan lebih baik. Warga bisa bebas nyolokin peralatan listrik karena bayar masing-masing, bisa buat usaha juga kayak jualan es gitu," kata Musdalifah.

Tutik, warga Kampung Akuarium lainnya juga mengeluh masalah listrik. Anaknya yang masih bayi sering kepanasan apalagi pada siang hari karena lokasi Kampung Akuarium yang dekat dengan pantai.

"Beli voucher kan ramai-ramai ya bang ya, mau nyolokin kipas angin aja saya mikir dua kali, nggak enak sama tetangga kalau nyolok beberapa peralatan listrik," terangnya.

Penulis: Hamdi Putra
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help