Menkominfo: Saya Tidak Ingin Facebook Dijadikan Platform untuk Mengacak-acak Indonesia

Menkominfo Rudiantara menyatakan sikap seriusnya untuk menyelesaikan kasus kebocoran data pribadi pengguna Facebook.

Menkominfo: Saya Tidak Ingin Facebook Dijadikan Platform untuk Mengacak-acak Indonesia
TRIBUNNEWS/RINA AYU
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (2/3/2018). 

WARTA KOTA, SENAYAN - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan sikap seriusnya untuk menyelesaikan kasus kebocoran data pribadi pengguna Facebook.

Keseriusan itu ditunjukkan dengan memberi surat peringatan kedua kepada pihak Facebook Indonesia. Rudiantara tak mau ada pihak yang menggunakan data pribadi di media sosial, untuk mengacak-acak Indonesia seperti di Rohingya, Myanmar.

“Saya tidak mempunyai keraguan untuk desak mereka (Facebook), karena saya tidak ingin Facebook dijadikan platform untuk mengacak-acak Indonesia seperti Rohingya, Myanmar,” ujar Rudiantara usai menghadiri rapat dengar pendapat di Komisi I DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (11/4/2018).

Baca: Data Pengguna Facebook Bocor, Menkominfo Ajak Masyarakat Gunakan Medsos Buatan Dalam Negeri

Rudiantara mengatakan, Cambridge Analytica (CA) yang terungkap memanfaatkan data pribadi di Facebook untuk memenangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, diketahui ikut memperkeruh suasana di Rohingya.

“Isu CA di Facebook ini merupakan isu menggunakan platform untuk menghasut, seperti contohnya yang terjadi di Rohingya,” ucapnya.

Rudiantara menegaskan kepada Facebook Indonesia, bahwa kebocoran data itu bisa berujung pada tuntutan hukum, karena melanggar Permen Kominfo Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Perngguna.

Baca: Abraham Samad: Penundaan Penetapan Tersangka Bisa Bikin Calon Kepala Daerah Hilangkan Barang Bukti

“Melanggar Permen Kominfo dan UU ITE, hukumannya bisa 12 tahun penjara dan atau denda Rp 12 miliar. Tapi itu kan polisi yang tetapkan,” ucapnya.

Facebook sebelumnya telah merilis ada 87 juta data akun yang dimanfaatkan oleh Cambridge Analityca, yaitu konsultan politik yang berperan dalam kemenangan Donald Trump di Pilpres Amerika Serikat 2016.

Dari 87 juta data akun, 70,6 akun di antaranya milik warga Amerika, seangkan satu juta di antaranya milik warga Indonesia. (Rizal Bomantama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help