Tsunami Terjang DKI Jakarta

Ini Kata Pakar Soal Tsunami 57 Meter Menghebohkan yang Akan Dialami Pemprov DKI Jakarta

Kejadian tsunami pada 1883 tersebut sendiri diketahui menelan korban hingga 36,417 jiwa.

Ini Kata Pakar Soal Tsunami 57 Meter Menghebohkan yang Akan Dialami Pemprov DKI Jakarta
Sriwijaya Post
Potensi daerah landaan dan ketinggian tsunami jika zona megathrust dari Bengkulu, Selat Sunda, dan selatan Jawa Barat mengalami gempa dengan magnitudo di atas M 9 dan panjang runtuhan dasar laut 1.000 kilometer, maka ada satu lokasi di Pandeglang yang tinggi tsunaminya 57 meter. Skenario terburuk ini didapatkan dari hasil pemodelan. 

WARTA KOTA, BOGOR - Beberapa waktu belakangan, isu gempa bumi dan tsunami  yang muncul  cukup meresahkan masyarakat terutama yang bermukim tidak jauh dari bibir pantai.

Karesahan tersebut beralasan karena  ancaman gempa megathrust bermagnitudo 8 digambarkan  bakal terjadi   di Jakarta beberapa hari terakhir ini.

Sebab masyarakat dikejutkan dengan berita potensi tsunami 57 meter.

Namun, sebetulnya potensi tsunami 57 meter di Pandeglang, Banten, Jawa Barat yang merupakan hasil kajian peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) Widjo Kongko ini bukan hal baru.

Pendapat tersebut disampaikan oleh Abdul Muhari selaku Chairman Sentinel Asia Tsunami Working Group melalui opininya di Harian Kompas, Selasa (10/04/2018).

"Jika dilihat kembali ke belakang tahun 1883, tsunami yang terjadi akibat letusan Gunung Krakatau membangkitkan tsunami dengan ketinggian berkisar 37 – 45 meter di Merak dan 22 meter di Teluk Betong (Bandar Lampung saat ini)," tulisnya.

Ini Artinya "Jejak kedahsyatan tsunami Krakatau sampai saat ini masih terlihat dari batu karang sangat besar (boulder) dengan estimasi berat mencapai 600 ton yang terbawa tsunami sampai ke darat di kawasan pesisir Anyer," imbuhnya.

Kejadian tsunami pada 1883 tersebut sendiri diketahui menelan korban hingga 36,417 jiwa.

Abdul juga mengutip sejumlah data terkait tsunami di Indonesia.

"Seperti yang tertulis pada catatan Symons (1888) dalam Choi dkk (2003) dan Pelinovsky dkk (2005), begitu dahsyatnya tsunami tahun 1883 ini sampai menimbulkan 'osilasi gelombang yang tak wajar' di tempat-tempat yang sangat jauh," tulisnya.

Halaman
12
Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help