IABI: Hanya BMKG yang Berhak Umumkan Infomasi Tentang Gempa dan Tsunami

Lilik Kurniawan mengatakan peneliti hanya menyampaikan pandangan saja mengenai apa yang ditelitinya dan hasilnya seperti apa.

IABI: Hanya BMKG yang Berhak Umumkan Infomasi Tentang Gempa dan Tsunami
Warta Kota/Muhamad Azzam
Sekjen Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Lilik Kurniawan. 

WARTAKOTA, KEMAYORAN - Lilik Kurniawan Sekjen Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengatakan para peneliti tidak memiliki wewenang untuk menyampaikan maupun mengumumkan soal prediksi terjadi suatu bencana.

Lilik Kurniawan mengatakan peneliti hanya menyampaikan pandangan saja mengenai apa yang ditelitinya dan hasilnya seperti apa.

Untuk keputusannya atau prediksinya hanya pihak-pihak bersangkutanlah yang dapat mengumumkan kepada masyarakat.

Contoh untuk prediksi soal cuaca, gempa bumi dan tsunami hanya boleh dilakukan BMKG.

Sementara untuk bidang vulkanologi dan mitigasi bencana geologi seperti informasi gunung meletus hanya boleh disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Sudah disepakati dan sudah ada aturan hukumnya. Jadi masyarakat setempat saat menerima informasi diluar instansi tersebut jangan langsung percaya, karena kalau baru dari peneliti belum tuntas kajiannya dan perlu dilakukan kros check kembali,"ujarnya saat ditemui pada acara mediasi ancaman tsunami Pandeglang, Banten, di NAM Center, Kemayoran, Jakarta Pusat pada Rabu (11/4/2018).

Lilik yang juga menjabat sebagai Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sudah memiliki rencana akan membuat Desa Nelayan Taguh di Pandeglang, Banten.

Tidak hanya di Pandeglang, bahkan rencananya akan semua pesisir pantai pulau Jawa.

"Untuk di Pandeglang rencananya BNPB juga akan menggandeng semua stakeholder untuk mewujudkan desa tangguh,"ucapnya.

Ia menambahkan sejatinya infomasi ancaman bencana itu jangan disikapi dengan rasa khawatir berlebih.

Informasi itu harus dijadikan pelajaran dalam mempersiapkannya.

"Masyarakat harus tau apa resiko yang ada diwilayahnya, dia harus paham kalau daerah rawan bencana sehingga pencegahan dini dapat dilakukan,"ujar Lilik yang juga menjabat sebagai Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB.

Masyarakat harus diberikan informasi terkait peta daerah rawan bencana sehingga dapat dipersiapkan dengan baik jika terjadi bencana.

Seperti jalur evakuasi, tempat evakuasi, maupun tanda-tanda peringatan jika terjadi bencana.

"Walaupun kematian atau bencana itu suatu takdir Tuhan tetapi semua itu bisa dapat dipersiapkan lebih dini, mitigasi bencana itu harus ada,"paparnya.(Muhamad Azzam)

Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help