Masjid Langgar Tinggi dan Gedung Aula SMPN 32 Tak Kunjung Diurus, Ini Kata Lurah Pekojan

Masjid Langgar Tinggi, menurut Tri, jajarannya sudah bersurat ke instansi terkait, yakni Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta

Masjid Langgar Tinggi dan Gedung Aula SMPN 32 Tak Kunjung Diurus, Ini Kata Lurah Pekojan
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Bangunan cagar budaya 'Langgar Tinggi' yang berada di Jalan Pekojan Raya, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, terlihat memprihatinkan tak terawat, bahkan terpantau nyaris rubuh, pada Senin (9/4/2018). 

WARTA KOTA, TAMBORA -- Sebagai Lurah Pekojan, Tri Prasetyo Utomo, tidak hanya menyibukkan diri bersama jajarannya untuk melayani warga.

Namun, dirinya juga sering memikirkan terkait kondisi terkini bangunan cagar budaya, yang di wilayahnya tersebut.

Beberapa bangunan bersejarah di yang berada di wilayah Pekojan diantaranya Gedung Aula di SMPN 32 Pekojan, Masjid An-Nawier, Langgar Tinggi, Masjid Jame Kampung Baru, Masjid Al- Ansyor dan Vihara Padilapa Samudera.

Namun yang kerap menyita perhatiannya yakni kondisi Masjid Langgar Tinggi, beserta di Gedung Aula SMPN 32 Pekojan.

Masjid Langgar Tinggi, menurut Tri, jajarannya sudah bersurat ke instansi terkait, yakni Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, untuk dapat merevitalisasi atau meremajakan Masjid Langgar Tinggi.

Tri mengatakan kini jajarannya hanya menunggu action, atau tindaklanjut dari jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Begitupun, dengan kondisi Gedung Aula SMPN 32 yang pada Kamis (21/12/2017) lalu ambruk dan melukai tiga guru. Gedung tersebut berdiri sejak 1861, jauh lebih muda dibanding Masjid Langgar Tinggi yang beridir sejak 1249 Hijriah, atau 1829 Masehi.

Kondisi Gedung Aula SMPN 32 Pekojan, lanjut Tri, masih berbentuk reruntuhan dan dipasangi garis polisi. Menurut Tri, dalam mendirikan lagi atau merenovasi bangunan cagar budaya, juga tidak boleh sembarangan.

"Soal kondisi untuk kedua bangunan tersebut, memang butuh perhatian khusus. Dua gedung ini kan bersejarah, cagar budaya, jadi renovasi ataupun pembangunan kembali tak bisa untuk dibangun secara sembarang. Harus persis kan sesuai bentuknya semula. Namun, dua gedung ini pun tindaklanjutnya bagaimana, kami surati ke instansi terkait itu agar diperhatikan. Sebab, ini bangunan cagar budaya, bisa tertarik para wisatawan lokal, bahkan asing," ungkapnya Tri, pada Senin (9/4/2018).

Sementara, Tinia Budiati sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, sebut masalah pembangunan fisik bangunan bernilai cagar budaya sudah menjadi urusan dari pihak Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang DKI Jakarta, yang dipimpin Benny Agus Chandra.

"Kalau urusan fisik bangunan cagar budaya itu, bukan ke saya (Dinas Pariwisata), tetapi sudah jadi urusan Dinas Cipta Karya," terangnya, saat dikonfirmasi Warta Kota.

Saat Warta Kota mencoba untuk menghubungi Benny Agus Chandra ini, tidak kunjung respon. Baik via telepon maupun pesan singkat. (BAS)

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved