BMKG Rilis Permodelan Tsunami Jika Terjadi di Pandeglang, Tinggi Ombak Mencapai 10,7 Meter

Kendati demikian, lanjutnya, pemodelan itu sifatnya masih bersifat kajian ilmiah, masih bersifat teoritik.

BMKG Rilis Permodelan Tsunami Jika Terjadi di Pandeglang, Tinggi Ombak Mencapai 10,7 Meter
Tribun Jabar
Hasil pemodelan Badan Geologi tentang potensi tsunami di Pandeglang, Banten 

WARTA KOTA, BOGOR - Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Badan Geologi, skenario terburuk tsunami di Pandeglang, Banten, tingginya hanya berkisar di angka 10,7 meter saja.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Dr Sri Hidayati menjelaskan hal itu saat ditemui Tribun Jabar usai konferensi pers di ruang informasi kantornya, Jalan Diponegoro, Bandung, Jumat (6/4/2018).

Kendati demikian, lanjutnya, pemodelan itu sifatnya masih bersifat kajian ilmiah, masih bersifat teoritik.

Karena itu, masyarakat diimbau tak panik.

"Kapan terjadinya tsunami, berapa besarnya tsunami, di mana terjadinya, itu kita tidak tahu. Intinya, jangan terlalu panik. Itu masih kajian ilmiah, apalagi pemodelan. Pemodelan itu hasilnya tergantung input parameter. Jika mendapat informasi mengenai tsunami, masyarakat bisa konfirmasi dulu ke BMKG atau Badan Geologi," katanya.

Angka ketinggian tsunami itu, lanjut Sri, didapatkan dari pemodelan yang dilakukannya pada akhir tahun kemarin.

Hasil dari pemodelan, didapatkan setelah memasukkan beberapa parameter sumber.

Parameter sumber itu, di antaranya adalah magnitudo gempa, displacement, panjang, dan lebar.

"Kami memasukkan magnitudonya 8,8, displacement-nya 8,25 m, panjangnya 475 km, dan lebarnya 180 km. Hasilnya didapat skenario seperti itu," kata Sri.

Sebelumnya, Peneliti Tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko, mengatakan, berdasarkan pemodelan yang dilakukannya, skenario terburuk tsunami di Pandeglang, Banten tingginya dapat mencapai 57 meter.

Dia mengatakan hal itu dalam diskusi di gedung BMKG, Jalan Angkasa Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/4/2018).

Sri menjelaskan, hasil pemodelan yang dilakukan oleh Widjo berbeda karena besaran parameter yang dimasukkannya pun berbeda dengan pihaknya.

"Itu (ahli BPPT) parameter sumber gempa buminya didefinisikan 9. Kalau kami 8,8. Kami mengambil angka itu karena berdasarkan hasil kajian para ahli gempa bumi."

"Saya pikir BPPT jenis parameternya sama. Hanya besarannya yang beda. Besarannya beda karena pemodelan itu kan asumsi. Tidak ada yang salah dengan pemodelan Pak Widjo," kata Sri. (Yongky Yulius)

 

Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help